Artikel: Anak Dan Hunia Vetikal | HBS Blog

  • 5 min read
  • Des 21, 2014

Rumah adalah salah satu jenis ruang tempat manusia beraktivitas, harus dipandang dari seluruh sisi faktor yang mempengaruhinya dan dari sekian banyak faktor tersebut, yang menjadi sentral adalah manusia. Dengan kata lain, konsepsi tentang rumah harus mengacu pada tujuan utama manusia yang menghuninya dengan segala nilai dan norma yang dianutnya.

Pengertian Perumahan Dan Kawasan Pemukiman

Menurut Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang dimaksud dengan perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.

Dalam banyak istilah rumah lebih digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat fisik (house, dwelling, shelter) atau bangunan untuk tempat tinggal/ bangunan pada umumnya (seperti gedung dan sebagainya). Jika ditinjau secara lebih dalam rumah tidak sekedar bangunan melainkan konteks sosial dari kehidupan keluarga di mana manusia saling mencintai dan berbagi dengan orang-orang terdekatnya.

Dalam pandangan ini rumah lebih merupakan suatu sistem sosial ketimbang sistem fisik Hal ini disebabkan karena rumah berkaitan erat dengan manusia, yang memiliki tradisi sosial, perilaku dan keinginan-keinginan yang berbeda dan selalu bersifat dinamis, karenanya rumah bersifat kompleks dalam mengakomodasi konsep dalam diri manusia dan kehidupannya. Beberapa konsep tentang rumah:

1)   Rumah sebagai pengejawantahan jati diri; rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera pribadi penghuninya

2)   Rumah sebagai wadah keakraban; rasa memiliki, rasa kebersamaan, kehangatan, kasih dan rasa aman

3)   Rumah sebagai tempat menyendiri dan menyepi; tempat melepaskan diri dari dunia luar, dari tekanan dan ketegangan, dari dunia rutin

4)   Rumah sebagai akar dan kesinambungan; rumah merupakan tempat kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan

5)   Rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari

6)   Rumah sebagai pusat jaringan sosial

7)   Rumah sebagai Struktur Fisik

Dalam pendekatan teknis, perumahan yang berorientasi terhadap kepuasan penghuni harus memenuhi syarat-syarat berikut:

1)   Struktur dan konstruksi rumah yang cukup kuat dan aman

2) Material bangunan yang menjamin terciptanya kenyamanan dan kesehatan di dalam rumah

3)  Prasarana/infrastruktur yang memenuhi standar kenyamanan, kesehatan dan keamanan lingkungan.

Beberapa kriteria permukiman atau kawasan permukan yang layak adalah sebagai berikut;

1) Jaminan P erlindungan H ukum

Perlindungan hukum mengambil banyak bentuk, diantaranya penyewaan akomodasi (publik dan swasta), perumahan kolektif, kredit, perumahan darurat, pemukiman informal, termasuk penguasaan tanah dan properti. Meskipun ada beragam jenis perlindungan hukum, setiap orang harus memiliki tingkat perlindungan hukum yang menjamin perlindungan hukum. Pihak Negara harus secara bertanggung jawab, segera mengambil tindakan-tindakan yang bertujuan mengkonsultasikan jaminan perlindungan hukum terhadap orangorang tersebut dan rumah tangga yang saat ini belum memiliki perlindungan, konsultasi secara benar dengan orang-orang atau kelompok yang terkena.

2) Ketersediaan L ayanan

bahan-bahan baku, fasilitas, dan infra struktur. Tempat tinggal yang layak harus memiliki fasilitas tertentu yang penting bagi kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan nutrisi. Semua penerima manfaat dari hak atas tempat tinggal yang layak harus memiliki akses yang berkelanjutan terhadap sumber daya alam dan publik, air minum yang aman, energi untuk memasak, suhu dan cahaya, alat-alat untuk menyimpan makanan, pembuangan sampah, saluran air, layanan darurat.

3) Keterjangkauan

Biaya pengeluaran seseorang atau rumah tangga yang bertempat tinggal harus pada tingkat tertentu dimana pencapaian dan pemenuhan terhadap kebutuhan dasar lainnya tidak terancam atau terganggu. Tindakan harus diambil oleh Negara Pihak untuk memastikan bahwa persentasi biaya yang berhubungan dengan tempat tinggal, secara umum sepadan dengan tingkat pendapatan. Negara Pihak harus menyediakan subsidi untuk tempat tinggal bagi mereka yang tidak mampu memiliki tempat tinggal, dalam bentuk dan tingkat kredit perumahan yang secara layak mencerminkan kebutuhan tempat tinggal. Dalam kaitannya dengan prinsip keterjangkauan, penghuni harus dilindungi dengan perlengkapan yang layak ketika berhadapan dengan tingkat sewa yang tidak masuk akal atau kenaikan uang sewa. Di masyarakat, dimana bahan-bahan baku alam merupakan sumber daya utama bahan baku pembuatan rumah, Negara Pihak harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan ketersediaan bahan baku tersebut.

4) Layak H uni

Tempat tinggal yang memadai haruslah layak dihuni, artinya dapat menyediakan ruang yang cukup bagi penghuninya dan dapat melindungi mereka dari cuaca dingin, lembab, panas, hujan, angin, atau ancamanancaman bagi kesehatan, bahaya fisik bangunan, dan vektor penyakit. Keamanan fisik penghuni harus pula terjamin. Komite mendorong Negara Pihak untuk secara menyeluruh menerapkan Prinsip Rumah Sehat yang disusun oleh WHO yang menggolongkan tempat tinggal sebagai faktor lingkungan yang paling sering dikaitkan dengan kondisi-kondisi penyebab penyakit berdasarkan berbagai analisis epidemiologi; yaitu, tempat tinggal dan kondisi kehidupan yang tidak layak dan kurang sempurna selalu berkaitan dengan tingginya tingkat kematian dan ketidaksehatan.

5) Aksesibilitas

Tempat tinggal yang layak harus dapat diakses oleh semua orang yang berhak atasnya. Kelompok-kelompok yang kurang beruntung seperti halnya manula, anak-anak, penderita cacat fisik, penderita sakit stadium akhir, penderita HIVpositif, penderita sakit menahun, penderita cacat mental, korban bencana alam, penghuni kawasan rawan bencana, dan lain-lain harus diyakinkan mengenai standar prioritas untuk lingkungan tempat tinggal mereka.

6) Lokasi

Tempat tinggal yang layak harus berada di lokasi yang terbuka terhadap akses pekerjaan, pelayanan kesehatan, sekolah, pusat kesehatan anak, dan fasilitasfasilitas umum lainnya. Di samping itu, rumah hendaknya tidak didirikan di lokasi-lokasi yang telah atau atau akan segera terpolusi, yang berakibat buruk untuk para penghuninya.

7) Kelayakan budaya.

Cara rumah didirikan, bahan baku bangunan yang digunakan, dan kebijakankebijakan yang mendukung kedua unsur tersebut harus memungkinkan pernyataan identitas budaya dan keragaman tempat tinggal. Berbagai aktivitas yang ditujukan bagi peningkatan dan modernisasi dalam lingkungan tempat tinggal harus dapat memastikan bahwa dimensi-dimensi budaya dari tempat tinggal tidak dikorbankan, dan bahwa, diantaranya, fasilitas-fasilitas berteknologi modern, juga telah dilengkapkan dengan semestinya.

Tak bisa dipungkiri, hunian vertikal atau apartemen menjadi pilihan tempat tinggal yang paling efektif dan efisien untuk masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Terlebih lagi, lahan untuk perumahan kian terbatas. Maka dari itu, pengenalan hunian vertikal sebaiknya dilakukan sejak usia dini karena anak-anak ini yang akan memanfaatkannya di kemudian hari.

Baca: Perumahan Yang Mudah Disesuaikan

Deskripsi Desain Yang Diusulkan

konsep desain Anak Dan Hunia Vetikal

Sudah diketahui bahwa dibandingkan dengan daerah pinggiran kota, kepadatan penduduk perkotaan dapat memiliki banyak keunggulan keberlanjutan. Namun, sementara kehidupan perkotaan sangat menarik bagi banyak keluarga dengan anak-anak, persediaan hyperdensity dan arsitektur bertingkat kita saat ini tampaknya sedikit menawarkan demografis ini dengan mayoritas mengakomodasi sebagian besar apartemen dengan 1 atau 2 kamar tidur, dengan sedikit layanan dan ruang yang kebutuhan keluarga atau keinginan. Yang lebih buruk lagi, banyak penelitian empiris yang menyarankan agar tinggal di bangunan-bangunan tinggi yang khas dapat merugikan anak-anak, bahwa hubungan sosial mereka lebih impersonal, dan mereka mungkin memiliki lebih sedikit teman daripada mereka yang tinggal di rumah bertingkat rendah. Tak heran bila, bagi banyak keluarga, rumah terpisah di jalan pinggiran kota tetap menjadi idamannya.

Proyek ini bertujuan untuk mengatasi kekhawatiran melalui penciptaan anak bertubuh tinggi. Secara khusus ia melihat bagaimana arsitektur hyperdense dapat mendorong aktivitas terpenting bagi anak-anak bermain.

Masterplan ini terdiri dari sebuah sekolah multi-lantai yang menghadap ke utara, dengan menara perumahan di belakangnya. Stasiun kereta api yang ada di bawah kawasan ini, membatasi kesempatan untuk bermain di lapangan. Dengan demikian, proyek ini mendapat inspirasi dari konsep rumah pohon anak-anak, dan mengangkat ruang bermain, interaksi dan aktivitas positif.

Secara khusus, perancangan tersebut mencerminkan koridor tengah steril yang terlihat di kebanyakan menara, dan membuka ini ke dalam serangkaian ruang bermain multi-lantai yang menghubungkan semua apartemen, menyediakan slide, polong dan area studi yang tenang untuk anak-anak. Pengaturan unit hunian masing-masing pihak memfasilitasi pengawasan informal dari orang tua, dan juga memberi kesempatan untuk ventilasi silang semua unit.

Menanggapi bangunan peninggalan yang berdekatan, dan jalan-jalan lokal, batu bata wajah digunakan sebagai bahan bangunan utama, memberikan unsur rumah tangga dan menahan diri terhadap ruang-ruang yang menyenangkan. Meskipun demikian, proyek ini mengeksplorasi kegembiraan pada ketinggian dengan menyesuaikan porositas batu bata yang terkena dampak dan tanggap terhadap pandangan yaitu estetika dan bayangan matahari.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + 18 =