Menu
Desain Rumah – Desain Interior – Bangun Rumah – Renovasi Rumah

Artikel: Arsitektonis Bangunan | HBS Blog

  • Share

Di postingan ini akan menjelasakan tiga (tiga) bab yg berkaitan dengan arsitektonis bangunan. Untuk bab yg pertama akan dijelasakan ?Planning kota?, yang ke 2 ?Kondisi-kondisi lingkungan bangunan & yang terakhir ?Standar Arsitektur Bangunan?.

Materi ini adalah keliru satu menurut pengantar ilmu bangunan yg dalam postingan sebelumnya menjelasakan ?Pengetahuan Administrasi Konstruksi?.

Sebelum pada pembahasan mungkin ada yg belum mengetahui arti istilah dibentuk pada judul postingan ini.

Apa itu arsitektonis?

Arsitektonis adalah kata yang pertanda mengenai kualitas arsitektur, karakteristik arsitektur.

Rencana Kota

Rencana kota ditetapkan sang Walikota/Kepala Daerah, yaitu terdiri berdasarkan:

1) Rencana induk (master plan) kota untuk seluruh wilayah Daerah Swatantra Tingkat lllKotapraja, yang berisi penunjukan lingkungan-lingkungan daerah bangunan, digambar dengan skala 1:5000.

2)  Rencana-rencana khusus (detail plan) untuk bagian-bagian dari wilayah Daerah Swatantra Tingkat ll/Kotapraja, yang menetapkan tempat-tempat untuk pertamanan, lapangan olah raga, pekuburan dan lapangan-lapangan umum lainnya, juga menetapkan tanah/bangunan yang harus dikosongkan oleh pemilik, untuk digunakan pembuatan jalan-jalan, pipa-pipa dan saluran-saluran pembuangan umum lainnya.

Rencana spesifik biasa digambar dengan skala 1:1000. Dalam rencana khusus, juga ditentukan letak garis-garis sempadan pagar, garis-garis sempadan muka bangunan & garis sempadan lainnya.

Syarat-Syarat Lingkungan Bangunan

Mendirikan atau memperbaharui sesuatu bangunan hanya boleh dilakukan dalam lingkungan yg sudah dipengaruhi buat bangunan yang dirnaksird atau rencana spesifik yang sudah ditetapkan.

Bangunan yg didirikan letaknya harus berdasarkan peraturan garis sempadan (rooilijn) yg sudah dipengaruhi; adanya garis sempadan bertujuan untuk mengatur bangunan-bangunan dalam kota, agar letaknya teratur, latif dan naenjamin lingkungan bangunan yang sehat & aman.

Larangan untuk melampaui garis sempadan muka bangunan yg merangkap menjadi garis sempadan pagar, tidak berlaku buat:

1)  Plisir-plisir muka bangunan, kuping-kuping atap atau luifel, asal letaknya di lingkungan bangunan toko, dan sekurang-kurangnya harus terletak 2,25 m di atas permukaan jalan yang ada di bawahnya dan tidak menonjol ke luar lebih dari lebar trotoir (selasar) dan juga tidak mengganggu pemandangan jalan.

2)  Balkon-balkon dan beranda-beranda yang terbuka atau tertutup pada loteng-loteng, asal lebarnya kurang dari separuh lebar muka bangunan, tidak menonjol ke luar lebih dari 1 meter dan letaknya sekurang-kurangnya 3 meter di atas permukaan jalan.

Kepala Daerah bisa memberikan pembebasan antara garis sempadan muka bangunan dan garis sempadan pagar, dalam hal buat mendirikan bangunan paviliun-paviliun kebun yg terbuka, pergola-pergola & bangunan-bangunan semacam itu yg adalah bagian menurut perlengkapan kebun, asal segala sesuatu itu berdasarkan pendapat Kepala Daerah, dapat menambah keindahan pemandangan generik berdasarkan halaman muka.

Pada type bangunan lain, halaman muka wajib dipisahkan berdasarkan jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah, & dilarang mempergunakan kawat berduri sebagai pagar pemisah di sepanjang jalan-jalan umum.

Sedang buat tempat tinggal -tempat tinggal , pekarangan-pekarangan atau kebun yang saling berlengketan maka setiap pemilik rumah atau page itu, berhak menuntut pemilik pekarangan tetangganya buat bersama-sama membuat atau memperbaiki pagar/alat penutupan yang membatasi rumah, pekarangan atau kebun mereka.

Keadaan tanah persil yang akan dibangun itu, wajib dibereskan sampai cukup menaruh jaminan bagi kesehatan & keamanan yg baik; buat itu diharuskan:

1)  Supaya tanah dibersihkan dari bagian-bagian campuran yang mengganggu dan berbahaya.

2)   Supaya sumur-sumur dan saluran-saluran yang tidak dipergunakan lagi ditutup.

3)   Supaya bangunan-bangunan yang rusak yang ada di tempat itu disingkirkan.

4)   Supaya pekarangan-pekarangan dipersiapkan dengan tanah secara baik, rata dan cukup miring agar air dapat mengalir ke luar dari tempat bangunan.

Keadaan suatu bangunan, termasuk saluran-saluran dan bentuk menurut bagian-bagiannya dan keseluruhannya. Wajib memenuhi kondisi-kondisi estetika yang layak, yang ditetapkan berhubung dengan estetika kota yg telah terdapat, atau yang dari rencana pernbangunan kota akan terdapat, demikian juga wajib sinkron dengan sifat keadaan jalan & pengelompokan bangunan-bangunan yg berdampingan.

Perbaikan planning pembangunan kota akan selalu dijadikan buat mengimbangi perkembangan dibidang:

–        Kemajuan teknologi dan arsitektur

–        Kemajuan ekonomi sosial dan budaya

–        Kemajuan norma kesehatan

–        Makin padatnya kota karena pertambahan penduduk dan urbanisasi.

Pedoman berdasarkan perencanaan tingkungan bangunan kota diantaranya merupakan:

–        Di sekeliling pasar dibuat toko-toko dan jalan-jalan yang lebar.

–        Rumah sakit, sekolar, dan tempat, ibadah harus terletak di daerah yang tenang.

–        Rumah sakit letaknya jauh dari kuburan

–        Kuburan tidak dibuat di tepi jalan raya

–        Kelas perumahan yang berlainan tidak menjadi satu lingkungan

–        Komplek perumahan mempunyai fasilitas lapangan olah raga dan taman

–        Sekolah dekat dengan komplek perumahan

Pengaruh penempatan bangunan pada pekarangan dalam lingkungan tempat tinggal tinggal:

1)   Bangunan di tengah_tengah pekarangan:

a)   Bangunan akan kelihatan besar dan megah

b)   Halaman terbagi menjadi kecil-kecil

2)   Bangunan tidak diienguf, *ngu; oJiurrrrrn,

a)   Bangunan kelihatan kurang megah

b)  Halaman menjadi satu dan luas dapat memberikan rasa segar dari lapang, bila ditanami banyak tanaman

3)   Bangunan induk dan bangunan menjadi satu:

a)   Diperoleh halaman yang cukup luas

b) Kesibukan masing-masing bagian akan saling mengganggu, tidak dapat dipisahkan.

4)   Bangunan induk dipisahkan dari bangunan tambahan:

a)   Halaman terbagi-bagi

b) Kesibukan masing-masing bagian dapat dipisahkan, sehingga tidak mengganggu ketenangan suasana bagian lain.

Standar Arsitektur Bangunan

Standard arsitektur bangunan terutama buat perumahan generik (public housing), adalah bertujuan menyediakan tempat tinggal tinggal yg cukup baik dalam segi design, dimensi kamar, rapikan letak ruangan & sebagainya, supaya dapat memenuhi kebutuhan/kondisi-kondisi tempat tinggal tinggal yg sehat (healthy) dan menyenangkan (comfortable) dengan relatif irit.

Secara generik tempat tinggal sehat & menyenangkan, merupakan tempat tinggal yg diantaranya:

1)   Tersedia jumlah ruangan/kamar yang cukup dengan luas lantai dan isi yang cukup besar, agar dapat memenuhi kebutuhan penghuninya untuk bekerja, tidur/beristirahat dan berekreasi dengan cukup terjamin kebebasannya (privacy) dan tidak ada gangguan.

2)   Memiki tata letak ruangan yang baik, sehingga:

–        Perhubungan antara ruangan di dalam rumah lancar.

–        Kebebasan dan kenikmatan penghuni terjamin.

3)   Letak kamar tidur harus diusahakan agar:

–        Tidak mudah terganggu, sehingga terjamin kebebasan orang tidur (privacy).

–        Sinar matahari pagi dapat masuk selama kurang lebih 1 jam.

–        Ventilasi cukup lancar, menjamin pergantian udara baru dari luar.

–     Pemisahan kamar tidur untuk suami-isteri. untuk pria atau wanita dewasa dan untuk anak-anak.

4)   Memiliki ruangan-ruangan yeng diperlukan untuk memenuhi kegiatan hidup sehari-hari, yaitu terdiri:

–        Ruangan untuk masak dan makan

–        Ruangan untuk mandi dan mencuci

–        Ruangan untuk menyimpan bahan pangan dan alat-alat rumah tangga.

5) Memberikan perlindungan dari panas, dingin, hujan, angin dan lembab. yang dapat mengganggu kesehatan penghuni, juga memberikan ventilasi dan penerangan alam maupun buatan yang cukup baik.

Dalam "Standard Arsitektur pada Bidang Perumahan" yang diterbitkan sang Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan (LPMB) Bandung, dalam 1972, diantaranya sudah berhasil disusun standard berukuran ruang kediaman yg sesuai menggunakan tata cara & kebiasaan hayati masyarakat di lndonesia.

Yang dimaksud ruang kediaman merupakan setiap ruangan yg digunakan untuk tidur, makan atau melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yg lazim, kecuali ruangan-ruangan untuk mandi, kakus, cuci & seterika, gang/lorong dan ruangan homogen yang penggunaannya tidak monoton & kedap.

Luas lantai untuk setiap ruangan kediaman sekurang-kurangnya 6 m2, sedang ketinggian lantai denah bawah yang padat, harus sekurang-kurangnya 10 cm di atas muka tanah yang paling tinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan, dan sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik yang paling tinggi dari sumbu jalan yang berbatasan.

Tinggi ruang minimum dalam bangunan-bangunan rumah tinggal, wajib sekurang-kurangnya dua,40 m, kecuali:

a)   Dalam hal langit-langitnya/kasau-kasaunya miring, sekurang-kurangnya setengah dari luas ruangan mempunyai tinggi ruang 2,40 m dan tinggi ruang selebihnya pada titik terendah tidak kurang dari 1,75 m.

b) Dalam hal ruang cuci dan kamar mandi/kakus, dapat diperbolehkan sampai sekurang-ku rangnya 2,10 m.

c) Dalam hal ruang masak/dapur, dengan gangguan asap dan/atau bak penggorengan, pengasapan atqu pembakaran, maka tinggi ruang tidak boleh kurang dari 3,50 m.

Bahwa penentuan tinggi langit-langit ruang kediaman, minimal cukup dua,40 m, merupakan berdasar penelitian rasa panas atau nir dalam ruangan, nir hanya disebabkan langit-langit yg rendah, tetapi jua ditimbulkan nir adanya gerak angin dan pergantian udara pada suatu ruangan, sebagai akibatnya udara pada dalam ruangan sebagai panas & lembab; hal ini menghipnotis pengeluaran panas dari badan, menyebabkan rasa lesu & keluarnya keringat yg berlebihan.

Jika ada gerak angin sepoi-sepoi & pergantian udara bersih yg lancar, maka akan mengakibatkan pendinginan badan & pernafasan yg segar, sebagai akibatnya memberikan rasa nyaman & nikmat (comfort).

Selain gerak angin dan pergantian udara higienis, perasaan nikmat (comfort) juga ditentukan sang suhu udara dan kelembaban udara pada ruangan.

Untuk mengklaim terjadinya gerak angin & pergantian udara bersih yg lancar, maka diperlukan adanya cara jendela silang (cross-ventilation), yaitu menggunakan memasukkan ke pada ruangan udara luar yang segar & baik buat kesehatan, melalui ventilasi atau lubang-lubang angin/pada dinding, sedang udara kotor dikeluarkan melalui lubang-lubang angin di dinding yg berhadapan.

Gerak udara ini harus dijaga jangan hingga terlalu akbar dan keras, lantaran dapat menyebabkan gangguan kesehatan, yg antaranya masuk angin, kaku-kaku di wilayah tengkuk, pilek-pilek atau penyakit-penyakit saluran pernafasan, maka itu lubang-lubang angin jangan terlalu akbar/poly, tetapijangan juga terlalu kecili sedikit.

Dengan adanya gerak angin dan pertukaran udara bersih, maka kelembaban udara & suhu udara dalam ruangan umumnya bisa berubah menjadi baik dengan sendirinya.

Biasanya suhu kamar yg ideal ialah 20-25 derajat Celsius, kelembaban udara lebih kurang 40 ? 50% & mobilitas udara yang sedang antara lima-20 cm per detik.

Tetapi ukuran rasa nikmat ini bersifat sangat subjektip, lantaran pada keadaan dan suasana (environment) tertentu, seseorang sudah merasa nikmat (comfort), sedangkan bagi orang lain belum merasa enak & nikmat.

Gerak angin dan pembaharuan udara dengan jendela silang, pula berguna menghindarkan gangguan kesehatan yg ditimbulkan kurangnya udara segar atau kebanyakan zat karbon mono oksida CO, yang umumnya terdapat dalam:

–        Pembakaran gas untuk penerangan atau pemanasan ruangan

–        Asap kereta api

–        Gas-gas mobildalam garasi

–        Asap rokok yang lembab.

Zat karbon mono oksida CO merupakan gas yg tidak berwarna, tidak berbau namun berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika gas CO terisap pada jurnlah cukup poly, dapat menyebabkan keracunan CO bagi manusia, yg gejala-gejalanya artinya perasaan pusing, rasa berat pada kepala, lemah, nafsu makan kurang, tidur terganggu, lekas marah & sebagainya.

Pada keracunan yg berat dapat menyebabkan pingsan, terjadi kejang-kejang, suhu badan menurun dan pernafasan lemah, akhirnya dapat mengakibatkan kematian.

Namun dalam praktek, keracunan yg berat ini jarang terjadi, sering hanya terjadi keracunan ringan saja, yg umumnya disebabkan garasi yg kurang mendapat jendela udara higienis, ruangan dengan Air Conditioning yg poly asap rokoknya, & pula pada sopir-sopir yg mengendarai mobilmobil yg karburatornya kurang baik kerjanya atau masuknya asap ke pada mobil karena kebocoran knalpot.

Gejala-tanda-tanda keracunan gas CO yang ringan bisa hilang sendiri, jika poly berada pada udara yg higienis dan segar. Pada waktu ini banyak dipakai indera Air Conditioning pada ruang kediaman, tujuannya buat mendapatkan "better conditions of the airdanquot;, yg dimaksud "conditions" itu ialah:

–        Purity (kebersihan udara)

–        Temperature (suhu udara)

–        Motion (gerak udara)

–        Humidity (kelembaban udara).

Dengan indera Air conditioning, udara pada ruangan bisa disaring dari debudebu, sebagai akibatnya udara dapat higienis dari kotoran-kotoran, dan suhu udara dapat diatur secara mekanis.

Di dalam ruangan menggunakan Air Conditioning, harus dihindarkan adanya asap rokok & gas lainnya, lantaran pada ruangan ini tidak ada pemasukan dan pembaharuan udara segar berdasarkan luar, maka asap rokok dan gas pembakaran lainnya akan menambah kadar co yang beracun, sehingga kesehatan dapat terganggu, apalagi suhu rendah dalam ruangan, bisa mengurangi daya tahan tubuh & mengakibatkan pilek-pilek atau komplikasi penyakit lainnya, terutama bagi orang yang peka terhadap udara dingin.

Selain cara jendela silang, jua terdapat beberapa standard mengenai penerangan & pembaharuan udara, yang diantaranya adalah:

1)   Setiap ruangan yang dipakai sebagai ruang kediaman.

a)  Memiliki sekurang-kurangnya satu lubang yan’g langsung berhubungan dengan udara luar dan bebas dari rintangan-rintangan. Jumlah luas bersih dari lubang itu harus sekurang-kurangnya sama dengan sepersepuluh dari luas lantai ruangan tersebut, dan dibuat sedemikian sehingga luas lubang yang sekurang-kurangnya setengah dari jumlah luas lubang harus bisa dibuka.

b)   Diberi lubang hawa atau saluran angin pada dan/atau dekat permukaan bawah langit-langit (ceiling) yang luas bersihnya sekurangkurangnya 0,35 % luas lantai ruang,yang bersangkutan.

2)   Setiap kamar mandi dan kakus harus diberi penerangan dan pembaharuan udara atau dapat juga diberi penerangan buatan dan pembaharuan udara mekanis yang memenuhi syarat hygiene bangunan.

3)   Setiap dapur, ruang makan umum, ruang istirahat dan ruangan-ruangan urhum lainnya dapat diberi penerangan:

a)   Dengan cara penerangan atap atau langit-langit yang mempunyai luas bersih, bebas dari rintangan-rintangan terhadap cahaya sekurangkurangnya sepersepuluh dari luas lantai ruangan dengan menyediakan cara pembaharuan udara mekanis yang memenuhi syarat.

b)  Dengan cara penerangan buatan dan perbaikan udara yang memenuhi syarat hygiene bangunan.

4)   Setiap gang/jalan terusan, koridor tangga dan ruang semacamnya, harus diberi penerangan alam atau buatan sekurang-kurangnya 20 lux (satuan cahaya). Bila ruangan-ruangan itu mempunyai kemungkinan digunakan pada malam hari, maka harus disediakan penerangan buatan di ruangan itu.

5)  Pada ruangan yang menggunakan pembaharuan udara mekanis, sebagai pengganti pertukaran udara alam, sistim mekanis ini harus bekerja terusmenerus selama ruangan yang dimaksud digunakan, agar terdapat penggantian seluruh udara dari ruangan atau bangunan, dengan jumlah udara segar dan bebas dari kuman-kuman dan kotoran yang sama besarnya dari udara luar atau ruang lain.

Udara kotor atau yang busuk/merusak, harus dikeluarkan menggunakan suatu cara mekanis dalam suatu loka sedemikian sampai tidak membuahkan gangguan.

6)   Lubang/jendela penerangan harus disesuaikan dengan letak matahari, agar sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan selama ± 1 jam setiap hari; lebih daripada itu, sinar matahari yang masuk dalam ruangan akan menyebabkan ruangan dan isinya menjadi panas, sehingga mengurangi kenyamanan dan kenikmatan (comfort) dalam ruangan.

Untuk mengurangi rasa panas yang hiperbola dalam ruangan, diantaranya dapat dengan cara:

1)   Ventilasi silang yang cukup lancar.

2)  Teritis atap atau dibuat beranda yang cukup lebar, agar sinar matahari langsung masuk ruangan dihalangi.

3)   Atap dan dinding-dinding diberi warna muda, mengurangi penyerapan panas sinar matahari.

4)  Halaman ditanami pohon-pohon, agar menyejukkan udara panas, memberikan bayanga n pada rumah dan juga menghindarkan pandangan yang silau (glare).

5)   Arahkan jendela/lubang ventilasi menghadap ke arah tiupan angin.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.