Artikel: Aturan Merancang Basement | HBS Blog

  • 3 min read
  • Feb 01, 2021
basement, cara merancang

Aturan merancang basement

Untuk membentuk basement dalam bangunan, ada beberapa hal yg pula usahakan diperhatikan, yaitu:

Memperhatikan Garis Sempadan

Pada saat akan mulai membangun, perhatikan posisi garis sempadan basement. Biasanya posisi garis sempadan basement lebih maju dibandingkan Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan mendekati garis sempadan pagar.

Memperhatikan Kondisi pada Sekitar Area Terbangun

Pembangunan  basement  perlu  mengetahui  kondisi yang  ada  di  dalam tanah,  mengingat seringkali dipergunakan untuk jalur utilitas seperti pemipaan (plumbing), jaringan telepon maupun listrik.

Selain utilitas bangunan, perhatikan jua lingkungan kurang lebih terutama area yg berbatasan menggunakan tetangga, mengingat dinding yang dibangun pada basement nir bisa semuanya berimpit menggunakan dinding tetangga lantaran akan mengganggu kekuatan bangunannya.

Apabila bagian basement ada yang menempel pada salah satu bagian dinding tetangga,  maka kita dapat menggunakan sheet pile. Sheet pile ini umumnya terbuat dari baja  atau  beton  yang  berfungsi  sebagai  retaining  wall.

Retaining  wall  berguna  untuk menahan beban tekanan tanah dan air. Apabila hunian tetangga yang bersebelahan dengan area basement  memiliki  dua  lantai,  maka  cara  paling aman  yang bisa  ditempuh  adalah dengan membuat jarak sekitar 1.5 meter dengan bagian dinding tetangga.

Posisi Muka Air Tanah

Kondisi muka air tanah pada tiap wilayah tentu berbeda-beda. Jika muka air tanah di lahan terbangun cukup tinggi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Langkah pertama adalah dengan mempersiapkan pompa, kemudian mem-blocking area kerja di sekitarnya dengan plastik atau terpal.

Hal ini dilakukan untuk mengatisipasi gangguan genangan air pada saat proses pengerjaan konstruksi (pengecoran dan perakitan tulangan). Selanjutnya buatlah parit- parit  di  sekitar  area  pembangunan  basement  untuk  mengalirkan  air  di  sekitar  lokasi kemudian memompanya ke luar area kerja. Dengan kondisi area kerja yang kering akan memperlancar pengerjaan konstruksinya.

Antisipasi Terhadap Air

Jika pada bangunan normal, prinsip dasar utilitas pemipaan air menggunakan metode gravitasi, dimana air dialirkan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang rendah, namun dalam perancangan basement perencanaan utilitas pemipaannya harus dibantu dengan alat mekanis.

Misalnya pada bagian basement dibangun kamar mandi atau toilet bila mengacu dalam prinsip gravitasi, maka air buangan wajib dialirkan ke loka yg lebih rendah, mengingat area basement memiliki level lantai yang sudah rendah maka air buangannya wajib dipompa ke atas agar sanggup dikeluarkan.

Cara lain yang bisa dilakukan merupakan menggunakan membuat septic tank yg lebih rendah dari lantai basement. Mengingat kiprah pompa sangat penting maka buat mengantisipasi kerusakan mekanik dalam pompa, disarankan agar menyediakan pompa cadangan.

Untuk memudahkan sistem utilitasnya, umumnya di lebih kurang basement dibentuk saluran air (selokan) keliling yg berfungsi mengalirkan air buangan ke pada loka penampungan. Dari tempat penampungan inilah air dipompakan ke atas..

Dinding Basement

Dinding pada basement harus dirancang agar kokoh dan kuat, mengingat fungsinya sebagai retaining wall (penahan beban tekanan tanah dan air). Ketebalan dinding betonnya berkisar antara 15-17.5 cm, bergantung pada kedalaman lantai basement-nya. Sementara untuk mengantisipasi adanya rembesan air,  dinding mutlak diberi lapisan waterproofing.

Material Basement

Masalah utama yang sering muncul pada area basement adalah kelembaban, mengingat letaknya yang berada di bawah dan prosentase waktu terkena cahaya matahari yang tidak terlalu banyak. Sementara permasalahan air tanah yang tidak teratasi dengan benar dan tuntas saat pembangunan basement-pun akan menimbulkan kondisi yang lembab.

Selain tidak sehat,  kondisi lembab juga  dapat  merusak ruangan  dan  benda-benda  yang ada  di dalamnya. Dinding basement yang cenderung lembab dan basah  mengakibatkan  proses pengecatan tidak bisa berlangsung dengan sempurna  dan membuat cat menjadi tidak rata. Solusi untuk mengatasinya adalah menggunakan cat yang bersifat waterproof untuk melapisi dindingnya.

Jika berencana  melapisi  dinding  basement  dengan  wallpaper  sebaiknya  perlu dipikirkan ulang mengingat musuh utama dari wallpaper adalah air. Dalam kondisi basah dan lembab, wallpaper akan mudah terserang jamur.  Bahan lain yang perlu dihindari pada kondisi basement yang lembab adalah karpet. Sebab bahan karpet  jika dipasang pada lantai yang lembab lama-kelamaan akan mengeluarkan bau tidak sedap.

Apabila kelembaban basement relatif tinggi, hindari perabot yang berbahan kayu, partikel board juga bahan lain yang nir tahan terhadap syarat lembab. Lebih baik pilihlah perabot yang berbahan tahan terhadap air, misal yg terbuat berdasarkan plastik.

Sirkulasi Udara

Basement adalah ruangan yang berada di bawah tanah, jadi sangat dimungkinkan kalau memiliki tingkat kelembaban tinggi. Untuk  menghindarinya rencanakan sistem sirkulasi udara yang baik dan benar. Oleh karena itu perlu dipikirkan tentang sirkulasi udara di dalamnya.

Demikianlah megenai basement, semoga bermanfaat. Terima kasih

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − 6 =