Artikel: Contoh prosedur praktikum pemeriksaan berat volume agregat | HBS Blog

Posted on 12 views

Salah satu praktikum yang di lakukan dalam perkuliahan jurusan teknik sipil yaitu pemeriksaan berat volume agregat. sesuai dengan judulnya, praktikum ini yaitu bertujuan untuk menentukan berat volume agregat  yang kita uji. Berat volume agregat merupakan perbandingan antara berat material kering dengan volume. Di bawah ini merupakan contoh prosedur praktikum ini. Nah, bagi kalian yang sedang mencari reperensi atau yang sedang membutuhkan bisa disimak contoh laporan di bawah!

PEMERIKSAAN BERAT VOLUME AGREGAT 1.TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu buat memilih berat isi agregat halus, kasar, atau campuran yang didefinisikan menjadi perbandingan antara berat material kering dengan volume.

2.PERALATAN

a.Timbangan

Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram kapsitas 2 kg untuk contoh agregat halus, dan keteliltian  1 gram kapasitas 20 kg untuk contoh agregat kasar.

B.Batang penusuk

Terbuat dari baja berbentuk batan lurus, berdiameter 16 mm & panjang 610 mm & ujungnya dibuat tumpul 1/2 bundar .

C.Alat penakar

Berbentuk silinder terbuat menurut logam atau bahan rapat air dengan ujung & dasar yang benar-benar homogen.

D.Sekop

e.Mistar perata

3.BAHAN

a.Agregat kasar

b.Agregat halus

4.PROSEDUR PERCOBAAN

Pegujian berat isi dan rongga udara dalam agregat dilakukan sebagai berikut: KONDISI KASAR

A. Berat isi tanggal

  1. Timbang dan catat berat wadah (W1);
  2. Masukan agregat kasar dengan hati-hati agar tidak berjatuhan dan tidak terpisah dengan butir-butir lainnya, dengan ketinggian 5 cm di ats wdah dengan menggunakan sekop sampai penuh;
  3. Ratakan permukaan agregat kasar dengan menggunakan mistar perata;
  4. Timbang dan catat berat wadah beserta agregat kasar (W2)
  5. Hitung berat agregat kasar ( W3 = W2-W1).

B. Berat isi tusuk

  1. Timbang dan catat berat wadah (W1);
  2. Isi wadah dengan agregat kasar dalam tiga lapis yang sama tebal;
  3. Setiap lapis dikasarkan dengan tongkat pemadat yang ditusukan sebanyak 25 x secara merata;
  4. Pada saat lapis ketiga, isi agregat kasar melebihi ukuran wadah. Tusuk sebanyak 25 x kemudian ratakan dengan mistar perata;
  5. Timbang dan catat berat benda wadah beserta agregat kasar (W2)
  6. Hitung berat agregat kasar (W3=W2-W1)

C. Berat Isi ketuk

  1. Timbang dan catat berat wadah (W1);
  2. Isi wadah dengan agregat kasar dalam tiga lapis yang sama tebal;
  3. Setiap lapis dikasarkan dengan mengetuk-ngetukan dengan menempelkan  wadah ke lantai sebanyak 50 x secara merata;
  4. Pada saat lapis ketiga, isi agregat kasar melebihi ukuran wadah. Tusuk sebanyak 25 x kemudian ratakan dengan mistar perata.
  5. Timbang dan catatlah berat wadah beserta agregat kasar (W2)
  6. Hitung berat agregat kasar (W3 = W2 – W1)

AGREGAT HALUS

A. Berat isi lepas

  1. Timbang dan catat berat wadah (W1);
  2. Masukan agregat halus denga hati-hati agar tidak berjatuhan dan tidak berpisah dengan butir-butir yang lainnya, dengan ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sekop sampai penuh;
  3. Ratakan permukaan agregat kasar dengan menggunakan mistar perata;
  4. Timbang dan catat berat wadah beserta agregat halus (W2)
  5. Hitunglah berat agregat halus ( W3 = W2 – W1)

B. Berat isi tusuk

  1. Timbang dan catatlah berat wadah (W1);
  2. Isi wadah dengan agregat halus dalam tiga lapis sama tebal;
  3. Setiap lapis dikasarkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 x secara merata;
  4. Pada saat lapis ketiga, isi agregat halus melebihi ukuran wadah, tusuk sebanyak 25 x kemdian ratakan dengan mistar perata;
  5. Timbang dan catat berat wadah beserta agregat halus  (W2)
  6. Hitung berat agregat halus ( W3 = W2 – w1)

C. Berat Isi ketuk

  1. Timbang dan catat berat wadah (W1)
  2. Isi wadah dengan agregat halus dalam tiga lapis yang sama tebal;
  3. Setiap lapis dikasarkan dengan mengetuk-ngetukan dengan menempelkan wadah ke lantai sebanyak 50 x secara merata;
  4. Pada saat lapis ketiga, isi agregat halus melebihi ukuran wdah. Ketuk sebanyak 50 x secara merata kemudian ratakan dengan mistar perata;
  5. Timbang dan catat berat wadah beserta agregat halus (W2);
  6. Hitung berat agregat halus ( W3 = W2 – W1).

Lima. PERHITUNGAN

Berat isi agregat = W/V kg / m?

Dimana    :

V              : Volume wadah

6. LAPORAN

Laporan output inspeksi berat isi agregat dalalm tabel.

LABORATORIUM PENGETAHUAN BAHAN KONSTRUKSI

JURUSAN TEKNIK SIPIL

PEMERIKSAAN BERAT VOLUME AGREGAT

No. Contoh

:

Tgl. Praktikum

:

Pelaksana

: Kelompok 7

Asisten

:

Observasi 1

: Berat isi tanggal

KASAR

HALUS

A.   Voume wadah

= 15

ltr

= 15

ltr

B.    Berat wadah

= 6,459

kg

= 6,459

kg

C.    Berat wadah + benda uji

= 26,464

kg

= 24, 637

kg

D.   Berat benda uji ( C – B)

= 19,969

kg

= 18, 142

kg

Berat Volume (D/A)

= 1,331

Kg/ltr

= 1,209

Kg/ltr

Observasi II :  Berat isi tusuk

KASAR

KASAR

HALUS

A.   Voume wadah

= 15

ltr

= 15

ltr

B.    Berat wadah

= 6, 459

kg

= 6,459

kg

C.    Berat wadah + benda uji

= 27,971

kg

= 26,554

kg

D.   Berat benda uji ( C – B)

= 21,476

kg

= 20,059

kg

Berat Volume (D/A)

= 1,431

Kg/ltr

= 1,337

Kg/ltr

Observasi III :  Berat isi ketuk

KASAR

KASAR

HALUS

A.   Voume wadah

= 15

ltr

= 15

ltr

B.    Berat wadah

= 6, 459

kg

= 6,459

kg

C.    Berat wadah + benda uji

= 27,862

kg

= 26,915

kg

D.   Berat benda uji ( C – B)

= 21,367

kg

= 19,42

kg

Berat Volume (D/A)

= 1,424

Kg/ltr

= 1,295

Kg/ltr

BERAT VOLUME RATA-RATA

KONDISI KASAR

=

=  = 1,3953 Kg/ltr

KONDISI HALUS

=

=  = 1,2803 Kg/ltr

7.CATATAN

Wadah sebelum dipakai harus dikolaborasikan menggunakan cara :

  • Isilah wadah dengan air sampai penuh pada suhu kamar, sehingga ditutup dengan pelat kaca tidak terlihat gelembung udara.
  • Timbang dan catat berat wadah beserta air.
  • Hitung berat air = (berat wadah + air – berat wadah)
  • Timbang dan catat berat wadah serta benda uji

8.KESIMPULAN

Dari ketiga observasi yang telah dilakukan, didapatkan berat isi pada agregat kasar dan agregat halus diantaranya:

Berat isi tanggal :

-Agregat kasar    = 1,331 kg/ltr

-Agregat halus     = 1,209 kg/ltr

Berat isi tusuk

-Agregat kasar    = 1,431 kg/ltr

-Agregat halus     = 1,337 kg/ltr

Berat isi ketuk

-Agregat kasar    = 1,424 kg/ltr

-Agregat halus     = 1,295 kg/ltr

Maka ditarik kesimpulan bahwa antara ketiga observasi penentuan berat isi agregat, berat isi yg paling membuat berat volume terbesar merupakan dalam observasi ke-2 (menggunakan cara ditusuk) yaitu :

-Agregat kasar terbesar    = 1,431 kg/ltr

-Agregat halus terbesar    = 1,337 kg/ltr

Nah itu adalah Contoh mekanisme praktikum pemeriksaan berat volume agregat. Dengan catatan bahwa praktikum tersebut dilaksanakan dengan seadanya. Bagi kalian yg membutuhkan mampu dijadikan bahan surat keterangan.

Semoga goresan pena di atas sanggup berguna buat kita semua. Apabila terdapat kesalahan baik pada mekanisme ataupun perhitungan mampu kalian tuliskan pada kolom komentar di bawah, agar saya mampu memperbaikinya!.

Leave a Reply

Your email address will not be published.