Menu
Desain Rumah – Desain Interior – Bangun Rumah – Renovasi Rumah

Artikel: Jenis Dan Penyebab Kegagalan Struktur Bangunan | HBS Blog

  • Share

Seperti yang kita ketahui konsekuensi dari kegagalan struktur bangunan selain rusaknya bangunan tetapi juga dapat menyebabkan kecelakaan yang timbulnya korban jiwa, cedera dan lainya yang disebabkan oleh jatuhnya material . Kegagalan bangunan dapat berupa  bagian dari bangunan  yang  retak, misalnya struktur beton bertulang  yang suatu waktu bisa saja mengalami keretakan yang serius atau lebih besar dan menyebabkan robohnya suatu bangunan. Bayangkan saja andaikan orang-orang yang berada pada suatu bangunan yang mengalami kegagalan struktur apalagi bangunan gedung tinggi maka hal buruk apapun bisa terjadi.

Selain itu, kerusakan properti bekas keruntuhan bangunan perlu menghabiskan ketika untuk membersihkan, memperbaiki dan memerlukan porto buat mengembalikan seperti normalnya.

Definisi Kegagalan Struktur Bangunan

Jenis Dan Penyebab Kegagalan Struktur Bangunan

Undang-undang Jasa Konstruksi NO.18/1999 Pasal 1 mengungkapkan bahwa kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan, yg setelah diserah terimakan oleh penyedia jasa pada pengguna jasa, sebagai nir berfungsi baik sebagian atau secara keseluruhan nir sesuai dengan ketentuan yg tercantum pada kontrak kerja konstruksi atau pemanfaatan-nya yang menyimpang sebagai akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau pengguna jasa.

Kontrol Kualitas Beton Untuk Minimalisir Kegagalan Kostruksi

Dalam industri konstruksi beton telah ada sebagai bahan bangunan yg paling generik. Juga perlu dicatat bahwa bangunan yang menggunakan beton bertulang sangatlah poly. Oleh karena itu, faktor-faktor yang menghipnotis kekuatan beton bertulang wajib dipertimbangan dengan cermat.

Bahan konstituen buat beton antara lain semen, agregat halus, agregat kasar & air. Beton adalah material yg sangat bervariasi, mempunyai aneka macam kekuatan. Beton umumnya mempertinggi kekuatannya menggunakan usia. Hubungan yang sempurna akan tergantung dalam jenis semen yg dipakai. Merupakan hal yg penting bahwa agregat untuk menciptakan beton wajib bebas dari segala jenis kotoran.

Dalam pelaksanaanya sangat krusial buat mengontrol kualitas agregat yg akan digunakan dalam pembuatan beton. Yang paling penting, imbas berdasarkan kandungan lumpur/lempung pasir dalam kekuatan tekan beton wajib dikontrol.

Baca: Alat Uji Beton Dan Fungsinya

Penyebab Terjadinya Kegagalan Struktur Bangunan

Beberapa faktor penyebab umum bangunan gagal cenderung karena perencanaan yang tidak benar dan pelaksanaan pekerjaan yg nir sesuai acuan yang ada. Penggunaan bahan material yg nir sinkron acuan & kegagalan dalam desain yang muncul pada termin pra-konstruksi & kesalahan operasional yang muncul pada waktu fase konstruksi adalah salah satu dari banyaknya faktor. Kesalahan yg timbul berdasarkan pra-konstruksi & selama fase konstruksi memiliki pengaruh potensial terbesar dalam output akhir proyek.

Kerusakan bangunan bisa terjadi karena tiga pihak yg terlibat yaitu Konsultan, Kontraktor dan Pengembang/Pemilik. Dalam pelaksanannya sanggup saja Konsultan dan Kontraktor telah memberikan kontrol dan pengawasan operasi lapangan & kontrol kualitas yang tidak mencukupi, begitu pula kurangnya supervisi aplikasi pekerjaan menurut pengawas owner sebagai akibatnya terjadi defleksi kualitas bahan atau yg lainya.

Dibawah ini merupakan beberapa penyebab terjadinya kegagalan struktur:

1) Umur/Daya Layan Bangunan

Umur bangunan juga berperan dan berpengaruh terhadap kegagalan konstruksi bangunan dimana apabila umur suatu konstruksi bangunan melebihi menurut umur yang direncanakan maka dapat berpotensi menyebabkan kegagalan bangunan, hal ini diakibatkan karena taraf kekuatan bangunan mengalami penurunan selama umurnya serta kelelahan yang mengakibatkan daya layan berkurang.

2) Bencana

Faktor ini merupakan faktor diluar dugaan & kemampuan manusia yg sulit buat diprediksi secara tepat, faktor bencana merupakan faktor yang sangat fatal terhadap kegagalan konstruksi. Bencana dalam hal ini dapat berupa bala alam juga dampak faktor internal yang disebabkan oleh kelalaian manusia misalnya bencana gempa, tsunami, tanah longsor, badai topan, kebakaran, ledakan dan lainya sebagai akibatnya mengakibatkan kegagalan pada struktur. Oleh karena itu buat mengurangi taraf risiko akibat faktor ini maka pihak pengelola konstruksi mengalihkan risiko tadi seperti mendaftarkan ke premi.

3) Maintanance/Perawatan

Perawatan bangunan jua berperan krusial terhadap kelangsungan umur dan kualitas produk konstruksi, tentunya dalam hal ini diperluhkan sistem manajemen perawatan bangunan. Biasanya seseorang pengawas owner yang ditugasi buat mengecek syarat bangunan, atau konsultas pengawas yang ditunjuk sang owner. Jika taraf frekuensi perawatan nir dilakukan secara rutin dan terpola maka dapat jua berpotensi terhadap meningkatnya risiko kegagalan bangunan. Inspeksi perawatan bangunan berfungsi buat mendeteksi secara dini kerusakan dari fisik bangunan sebagai akibatnya langkah perbaikan dapat dilakukan sejak dini sebagai akibatnya menghindari taraf kerusakan yang lebih jelek serta pembengkakan porto.

Contoh menurut perawatan ini seperti waktu konstruksi baja dibiarkan nir dilakukan perawatan dan pengecat-an maka lama -lama sanggup berkarat, atau jembatan struktur baja namun memakai pelat lantai yg terbuat berdasarkan bahan material kayu, lantaran seiring bertambahnya umur jembatan, maka kayu juga mampu rusak & lapuk, maka dengan adanya perawatan, pelat yang terbuat menurut kayu itu mampu pada perbarui.

4) Kesalahan Dalam Perencanaan

Kesalahan perencanaan & perancangan adalah faktor yang sangat krusial & vital dimana sangat berpengaruh terhadap desain konstruksi yang akan dilaksanakan dilapangan, bila pada aspek perencanaan dan perancangan pihak konsultan galat memperhitungkan atau menganalisis maka konsekuensi & dampak yg dapat disebabkan ke depan akan sangat signifikan berpengaruh terhadap kegagalan fisik bangunan, seperti ketidaksempurnaan konstruksi pada desain, misalnya desain arsitektur yang kemudian dalam perhitungan struktur tidak direncanakan dengan baik & benar, sebagai akibatnya tidak sesuai acuan yang berlaku dan mengakibatkan kegagalan konstruksi, struktur menjadi nir sempurna buat maksud yg diusulkan. Desain struktural yg sahih sangat krusial buat semua bangunan, tetapi sangat penting untuk bangunan tinggi. Bahkan sedikit kemungkinan kegagalan tidak dapat diterima karena hasilnya dapat menjadi bala bagi kehidupan insan dan bangunan itu sendiri. Oleh karenanya, orang sipil harus sangat berhati-hati & metodis pada memastikan desain bangunan yang sesuai yg dapat mempertahankan beban yg diterapkan.

Tetapi dalam hal ini tidak hanya perencanan dalam hal desain tetapi juga Perencanaan yang dapat berupa perencanaan anggaran, perencanaan mutu, perencanaan waktu pelaksanaan, perencanaan manfaat/benefit, perencanaan fungsi dan perencanaan yang mendukung terhadap produk konstruksi yang akan dihasilkan. Kesimpulan-nya semua mode kegagalan perlu diperiksa dengan menggunakan perangkat lunak modern pada subjek. Namun, seorang perancang dan pembangun tidak dapat sepenuhnya yakin tentang desain, dan oleh karena itu faktor keamanan yang tepat dimasukkan pada perhitungan desain.

5) Kesalahan Operasional

Dalam hal ini lebih berorientasi kepada  pihak pemilik proyek konstruksi dalam tahap penggunaan dan operasional dari produk konstruksi tersebut, dimana jika pihak pemilik melakukan kesalahan dalam hal merubah dari fungsi awalnya maka dapat berpotensi menimbulkan terjadinya kegagalan konstruksi, misalnya bangunan yang awalnya diperuntukkan untuk gedung perkantoran diubah fungsi menjadi gudang atau menambah jumlah tingkat bangunan yang dari perencanaan awalnya hanya diperuntukkan untuk satu lantai atau pembangunan gedung yang setelah terealisasi tidak digunakan sama sekali/ganggur,  serta perubahan-perubahan fungsi lainnya yang menyimpang dari fungsi rencana awalnya juga berpotensi terhadap terjadinya kegagalan bangunan baik bersifat fisik maupun nonfisik.

6) Kesalahan Dalam Proses Studi Kelayakan

Kesalahan dalam  tahapan studi kelayakan memberikan dampak yang cukup meluas ke beberapa aspek tidak hanya yang bersifat fisik tetapi non fisik juga. Dalam proses pembuatan dan analisis studi kelayakan tentunya perlu memperhatikan aspek-aspek secara menyeluruh/komprehensif yang akan di proyeksikan ke depan baik pada tahap pelaksanaan/konstruksi maupaun pasca konstruksi dimana berdampak langsung terhadap daerah di sekitarnya baik dari segi pemanfaatan, perawatan, sosial, ekonomi, lingkungan dan peraturan yang berlaku. Jadi pada tahap ini jika tidak dilakukan dengan cermat khusunya bagi proyek yang berskala besar maka akan memberikan dampak yang signifikan dalam tahapan ke depannya yang tentunya merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kegagalan suatu konstruksi.

7) Kesalahan Dalam Pelaksanaan

Kesalahan pelaksanaan merupakan tindak lanjut dari proses perencanaan kontruksi, dimana dalam tahap pelaksanaan juga memegang peranan penting terhadap kegagalan kontruksi yang tentunya lebih berorientasi kepada  pihak pelaksana proyek/kontraktor. Pekerjaan tenaga kerja tidak terampil pada pekerjaan konstruksi adalah alasan lain untuk kegagalan struktural. Oleh karena itu, penting bahwa pemilik, perancang, dan pembangun sepenuhnya sadar akan alasan kegagalan, dan melakukan semua tindakan pencegahan.

Dalam tahap pelaksanaan faktor-faktor tersebut antara lain dapat dari segi metode pelaksanaan yang salah, kualitas material yang tidak sesuai spesifikasi dalam kontrak dan perencanaan, penggunaan tenaga kerja yang kurang atau tidak ahli dan berpengalaman, penggunaan peralatan yang tidak efektif, kurangnya pengawasan dan manajemen proyek yang buruk.  Tentunya jika aspek tersebut dapat lebih diperhatikan maka tingkat risiko kegagalan konstruksi dari aspek pelaksanaan dapat direduksi.

8) Kegagalan Pengerjaan Interior

Kegagalan karena pengerjaan inferior bisa menyebabkan kerusakan & kegagalan struktural. Pengerjaan yg tidak baik seringkali kali adalah berasal mula kegagalan konstruksi. Bahkan material berkualitas tinggi, bila dipakai tidak paripurna, mungkin nir berhasil melayani fungsi yg direncanakan, atau tahan lama seperti yg dibuat.

Pengerjaan yg tidak baik adalah penyebab sebenarnya dari kebanyakan kegagalan konstruksi. Kegagalan umum lantaran pengerjaan yang tidak baik mampu mengakibatkan atap bocor, ubin lantai yang retak, peluruhan cat, dan poly kasus lainnya. Prosedur yg sempurna sudah dibuat buat hampir setiap operasi konstruksi, & hanya implementasi yang diharapkan. Cat berkualitas yang diterapkan pada bagian atas yg tidak bersih kemungkinan akan gagal, bukan karena bahannya di bawah baku, tetapi karena beliau dipakai dengan kualitas kerja yg tidak baik.

9) Kegagalan Pondasi

Banyak pondasi bangunan tidak dibuat dan dibangun menggunakan baik buat syarat tanah dalam lokasi yg ada, contohnya tanahnya mempunyai daya dukung yg tidak baik atau tidak memadai buat mendukung berat struktur.

Pergerakan pondasi dapat terjadi apabila pelapisan dan pengeringan tanah tidak seragam, seperti drainase yang nir memadai, kebocoran pipa, dan evaporasi, dapat mengakibatkan variasi tanah. Lapisan tanah atas menaruh daya dukung buat menahan struktur, & memastikan stabilitas pondasi. Jika tanah bantalan nir dipadatkan dengan cukup sebelum pelaksanaan konstruksi maka peluang terjadinya kegagalan struktur sangatlah akbar.

Jenis Kegagalan Struktur Bangunan

Ada 2 jenis kegagalan konstruksi, kegagalan laten dan kegagalan paten. Kegagalan laten merupakan kegagalan yang tersembunyi dan sering nir kentara. Bahkan menggunakan pemeriksaan di tempat yang paling komprehensif, kadang-kadang item yg mengalami kegagalan dapat luput berdasarkan perhatian. Setelah konstruksi terselesaikan, kegagalan laten tidak diketahui & umumnya tidak bisa ditemukan dan hanya akan ada sesudah berlalunya waktu. Sementara Kegagalan paten merupakan kegagalan yg diketahui bahkan gampang terlihat pada pemeriksaan wajar atau normal.

Contoh Kegagalan Laten adalah:

1)  Tanah yang tidak dipadatkan dengan benar.

2)  Kurangnya penguatan pada pondasi beton struktural

3)  Sistem peredam cuaca yang tidak terpasang dengan benar.

4)  Sistem dinding eksterior EIFS tidak dipasang dengan benar.

5)  Penguatan tidak sepenuhnya tertanam dalam struktur beton.

Contoh Kegagalan Paten adalah:

1)  Terjadi keretakan pada struktur beton

2)  Kurangnya ventilasi udara

3)  Tidak sesuianya kemiringan atap, sehingga terjadi kebocoran

4)  Tidak terpasangnya railing pada tangga.

5)  Pintu yang keluar dan tidak sejajar dengan frame kusen yang terpasang.

6)  Jendela tidak berfungsi

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × four =