Artikel: Kerusakan Bangunan Akibat Gempa dan Prinsip Menanggulanginya | HBS Blog

  • 3 min read
  • Sep 13, 2020

Gempa adalah bala alam yg bisa merusak bangunan. Tidak hanya membuat isi bangunan berantakan, tetapi jua merusak struktur bangunan dan membahayakan penghuninya. Kerusakan struktural pada bangunan akibat gempa umumnya nir terjadi hingga gempa yg besarnya 5,0 Mw.

Runtuhnya bangunan dampak gempa bumi umumnya disebabkan oleh ketidakmampuan bagian-bagian bangunan buat bekerja sebagai sebuah sistem dalam menahan gaya lateral. Desain rangka, Sistem struktur dan Pemilihan bahan juga memiliki kiprah penting buat mengamankan bangunan menurut gempa bumi.

Kerusakan Bangunan Akibat Gempa dan Prinsip Menanggulanginya

Kerusakan Bangunan Akibat Gempa dan Prinsip Menanggulanginya

Rusaknya bangunan dampak gempa berkaitan menggunakan kesalahan desain yg menghipnotis kinerja sistem struktural misalnya kekuatan, kekakuan dan fleksibilitas. Kerusakan bangunan pula diakibatkan koneksi elemen bangunan yang tidak sahih. Selain itu kualitas pengerjaan dan bahan bangunan juga sebagai kuci kekuatan bangunan tahan gempa.

Saat terjadi gempa, podasi pula menjadi pokok problem. Jika tanah yang menyangga pondasi ikut tergerus gempa, maka bangunan pada atasnya juga akan hancur. Oleh karenanya perlu mempertimbangkan jenis pondasi yg akan dipakai, kedalaman dan lokasi pondasi yang sempurna.

Berikut ini beberapa prinsip desain yang sanggup diterapkan bila ingin membuat bangunan tahan gempa berdasarkan output penelitian beberapa pakar bangunan :

Struktur yang kuat & ringan

Bangunan besar dengan dinding batu bata dan rumah beton bertulang akan memicu gaya inersia yang lebih besar selama gempa bumi karena amplitudo inersia berbanding lurus dengan massa struktur. Dinding dengan batu bata juga mudah retak saat gempa terjadi. Bangunan yang kuat dan ringan bisa dibuat dengan struktur  seperti konstruksi kayu atau logam.

rumah joglo

Joglo tahan gempa

Struktur kayu seperti Joglo lebih baik pada menghadapi gempa daripada struktur yg lebih berat. Rumah tembok bata dan konstruksi RC, yang masif, kurang disarankan buat struktur bangunan yang kondusif menurut gempa bumi. Bangunan menggunakan bahan batu dicatat sebagian besar mengalami kemungkinan kerusakan bangunan hingga 70% dampak gempa.

Struktur Terpadu

Kerusakan bangunan dapat dihindari dengan menggunakan elemen bangunan yang mendukung sistem beban vertikal tanpa bahan yang rapuh. Jika tidak, maka tulangan besar harus diberikan dan massa konstruksi harus dikurangi. Kemampuan deformasi yang tinggi dapat dicapai melalui penggunaan elemen struktural yang fleksibel untuk menunda keruntuhan.

Penguatan baik buat rangka yg kaku atau fleksibel diperlukan lebih poly. Bracing umumnya digunakan buat bangunan baja sedangkan tulangan tambahan dalam sambungan RC dibutuhkan buat menahan gempa.

Bangunan dengan ruang pada antaranya

Kegagalan karena bahan rapuh akan mempengaruhi elemen struktural lainnya dengan mode serupa. Bangunan akan runtuh dari lantai di mana elemen rapuh telah gagal dan akan menyebabkan lebih banyak kegagalan berturut-turut, meskipun elemen lain relatif lebih baik, yang disebut sebagai kegagalan getas yang progresif karena elemen vertikal. Homogeni lingkungan diperlukan untuk mempersiapkan bangunan akan bereaksi sama.

Ruang antara bangunan yg berdekatan pula diharapkan buat menjaga bangunan mempunyai ruang menggunakan sifatnya tanpa menghipnotis orang lain. Kegagalan dari satu bangunan nir akan mengakibatkan yang lain, & keruntuhan yg progresif bisa diminimalkan.

Struktur Homogeni

Diperlukan koneksi berkekuatan tinggi antara elemen vertikal untuk mengatasi kerusakan elemen vertikal dan memindahkannya ke elemen horizontal. Prinsip ini dikenal sebagai hubungan balok yang lemah ke kolom yang kuat yang dimaksudkan untuk melindungi elemen utama bangunan sebagai penyangga struktural untuk menunda keruntuhan lebih lanjut.

Koneksi adalah bagian krusial dari sistem buat menahan seluruh bangunan ketika gempa. Struktur harus dirancang lebih bertenaga daripada elemen dalam bangunan. Juga sangat mendesak buat mengatur ruang bangunan sebagai modul primer yang berlipat ganda, sebagai akibatnya dimensi elemen-elemen struktural misalnya kolom atau balok merupakan homogen. Kerusakan pada ukuran yg tidak selaras yang disebut efek kolom pendek dapat diminimalkan menggunakan konsistensi pada dimensi elemen struktural.

Perencanaan Bangunan Simetris

Penyimpangan horisontal dapat ditemukan dalam rencana bangunan asimetris karena beban ketidaksetaraan antara pusat massa dan bagian luarnya yang menyebabkan gaya puntir selama gempa bumi. Kerusakan yang lebih parah diperkirakan terjadi pada elemen-elemen bangunan pada denah lantai asimetris dan bagian-bagian bangunan yang memiliki jarak jauh dari pusat massa. Diperlukan perencanaan dan massa yang padat untuk menghindari bagian-bagian bangunan rusak akibat gempa bumi.

Bangunan simetris lebih tahan gempa

Bangunan simetris lebih tahan gempa

Keimpulannya Arsitek memainkan kiprah yg lebih penting pada keamanan sebuah bangunan daripada disiplin ilmu lain lantaran mereka mendefinisikan konsep dasar perencanaan & desain bangunan. Konsep arsitektur dibentuk menggunakan mempertimbangkan semua aspek termasuk bentuk dan fungsi serta sistem yang digunakan pada bangunan yang akan mempengaruhi taraf keamanan menurut gempa bumi.

Referensi :

  • Noor Cholis Idham. 2018. Earthquake Failures on Buildings and The Role of Architect on Building Safety. Architecture Department, Universitas Islam Indonesia.
  • Yashinsky, M. (2006). Earthquake damage to structures. In W. Chen & E. Lui (Eds.), Earthquake engineering for structural design (p. 1–58.). Boca Raton: Talyor & Francis.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen + 19 =