Menu
Desain Rumah – Desain Interior – Bangun Rumah – Renovasi Rumah

Artikel: Mengenal Gaya Arsitektur (4) : Arsitektur Indonesia | HBS Blog

  • Share

Dari pandangan geografi, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 17.504 bh (Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004),  luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2 serta dibagi menjadi 34 propinsi yang masing-masing memiliki adat dan budaya yang khas. Tentunya dengan kondisi yang demikian, arsitektur di Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya itu sendiri, kondisi geografi dan sejarah yang membentuk Indonesia seutuhnya. Selain itu juga, para penyerang, imperialisme/kolonial, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya yang memiliki efek mendalam pada gaya bangunan dan teknik. Secara tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa cukup memainkan peranan penting dalam membentuk arsitektur Indonesia.

Melihat  pengaruh diatas, arsitektur Indonesia dapat dibagi menjadi:

Arsitektur Tradisional

Kelompok etnis di Indonesia sering dikaitkan dengan bentuk khas mereka sendiri. Rumah-rumah adat merupakan pusat aktifitas, hubungan sosial, hukum adat, tabu, mitos dan agama yang mengikat penduduk desa bersama-sama. Arsitektur tradisional  tempat aktivitas manusia yang berhubungan dengan bangunan atau wadah aktivitas dan lingkungan yang diwarnai oleh budaya dan adat istiadat setempat. Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai jenis arsitektur tradisional yang berbeda. Rumah tradisional Indonesia tidak didesain oleh arsiktek. Orang desa membuat rumahnya sendiri, atau desanya menyatukan sumber untuk membangun struktur dibawah bimbingan pemimpin tukang kayu.

Arsitektur tradisional  di Indonesia berasal dari dua sumber; dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa dan arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah tradisional/vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.

Rumah-rumah tradisional Indonesia memiliki sejumlah karakteristik dengan rumah-rumah dari daerah Austronesia lainnya.  Struktur Austronesia awal adalah rumah panjang komunal kayu panggung, dengan  kemiringan atap yang cukup curam, seperti yang terlihat dalam rumah adat, misalnya, Rumah adat Batak, Toraja, Nias.  Prinsip rumah panjang komunal ditemukan di antara orang-orang Dayak dari Kalimantan, serta masyarakat Mentawai.

     Rumah tata cara (Omo Hada) Nias, Omo Sebua

Rumah adat Tana Toraja

     Rumah norma Batak Toba

Norma merupakan panduan pada membentuk rumah tata cara, balok & palang merupakan sistem struktural yang merogoh beban pribadi ke tanah dengan dinding kayu atau bambu bahan yang baik nir dan mempunyai beban ringan. Secara tradisional, pondasi ompak dan pasak kayu dan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, jerami dan serat biasanya digunakan pada rumah-tempat tinggal tradisional.

Tempat tinggal tradisional telah dikembangkan untuk menanggapi iklim musim panas dan basah di Indonesia. Seperti umumnya di seluruh Asia Tenggara dan Pasifik Barat, sebagian Rumah adat yang dibangun di atas panggung, dengan pengecualian Jawa dan Bali  membangun rumah di atas tanah langsung yang menyesuaikan dengan suhu tropis yang panas. Rumah adat yang dibangunan dengan bentuk panggung, tentunya mempunyai tujuan, seperti menghindari dari bahaya hewan buas, para musuh, dan menghindari kelembaban barang, makanan, mengurangi resiko bahan bangunan cepat rusak dan rayap. Bentuk atap dengan kemiringan yang cukup tajam memungkinkan air hujan cepat turun, dan atap menjorok keluar untuk melindungi dinding rumah dari air hujan serta memberikan keteduhan dalam panas. Di daerah pesisir dataran rendah yang panas dan lembab, rumah  memiliki banyak jendela untuk sirkulasi udara, sedangkan di daerah pedalaman pegunungan dingin, rumah sering memiliki atap yang luas dan beberapa jendela.

Rumah adat suku Dayak, Kalimantan

Rumah adat Nusa Tenggara Barat

Rumah adat Lampung

Rumah Adat Bugis, Sulawesi Selatan

 Arsitektur keagamaan

Walaupun arsitektur keagamaan tersebar luas di semua pelosok Indonesia, seni arsitektur ini berkembang pesat di Pulau Jawa. Pengaruh sinkretisasi agama di Jawa meluas hingga ke dalam arsitektur, sehingga menghasilkan gaya-gaya arsitektur yang berkhas Jawa buat bangunan-bangunan ibadah kepercayaan Hindu, Buddha, Islam, & hingga ke umat yang berjumlah kecil yaitu Kristen.

Sejumlah bangunan kepercayaan misalnya candi, yang tak jarang ukuran akbar dan didisain secara kompleks, poly dibangun pada Pulau Jawa dalam zaman kejayaan kerajaan Hindu-Buda Indonesia antara abad ke-8 hingga ke-14. Candi-candi Hindu tertua yang masih berdiri di Jawa terletak di Pegunungan Dieng. Diperkirakan dahulu terdapat lebih kurang empat ratus candi di Dieng yg kini hanya tersisa delapan candi. Pada awalnya, struktur bangungan-bangunan di Dieng berukuran kecil & relatif sederhana. Akan namun tingkat kemahiran arsitektur pada Jawa semakin semakin tinggi. Dalam kurun saat seratus tahun saja kerajaan kedua Mataram sudah dapat menciptakan kompleks candi Prambanan pada dekat Yogyakarta yg dianggap menjadi contoh arsitektur Hindu terbesar & terbagus pada Jawa.

candi Prambanan

Candi Borobudur

Candi Borobudur, sebagai monumen umat Buddha yang tercantum di pada daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, dibangun oleh wangsa Syailendra antara tahun 750 sampai menggunakan 850 Masehi, tetapi lalu ditinggalkan sesaat seketika Borobudur telah siap dibangun, merujuk dalam saat mundurnya agama Buddha dan perpindahan kekuasaan ke sebelah timur Jawa. Borobodur memiliki sejumlah akbar pahatan-pahatan menarik yang menampilkan cerita yang apabila ditinjau mulai dari tingkat bawah hingga ke tingkat atas merupakan metafor peraihan pencerahan. Dengan mundurnya Kerajaan Mataram, sebelah timur Jawa menjadi pusat arsitektur keagamaan dengan gaya yang sangat menarik yg mencerminkan Siwaisme, Buddha dan imbas khas Jawa; sebuah fusi yg mencerminkan karakteristik kepercayaan pada semua pulau Jawa.

Masjid Agung Demak

Pada abad kelima belas, Islam sudah menjadi agama yg mayoritas pada Jawa & Sumatera, dua pulau yg paling padat penduduknya di Indonesia. Seperti Hindu & Budha sebelum, kepercayaan baru, & impak asing yg menyertainya, diserap & ditafsirkan pulang, menggunakan masjid diberikan interpretasi Indonesia/Jawa yang unik. Pada saat itu, masjid Jawa mengambil poly isyarat desain dari Hindu, Budha, dan impak arsitektur bahkan Cina (lihat gambar " Masjid Agung " pada Yogyakarta ). Mereka nir memiliki, misalnya, kubah Islam pada mana-mana yang tidak timbul pada Indonesia sampai abad ke-19, akan tetapi punya kayu , multi-level atap tinggi seperti dengan pagoda candi Hindu Bali masih generik hari ini. Sejumlah masjid awal yang signifikan bertahan hayati , terutama di sepanjang pantai utara Jawa . Ini termasuk Mesjid Agung Demak, yg dibangun pada 1474, & Masjid Kudus Menara pada Kudus ( 1549 ) yang menara dipercaya menara menonton sebuah kuil Hindu sebelumnya. Gaya masjid Jawa dalam gilirannya menghipnotis gaya arsitektur masjid di antara tetangga, antara lain masjid pada Kalimantan, Sumatera, Maluku, & pula negara tetangga Malaysia, Brunei dan Filipina Selatan. Masjid Sultan Suriansyah pada Banjarmasin & Masjid Kampung Hulu di Malaka misalnya menampilkan imbas Jawa .

Pada abad ke-19, kesultanan kepulauan Indonesia mulai mengadopsi dan menyerap pengaruh asing menurut arsitektur Islam, sebagai cara lain buat gaya Jawa telah populer di Nusantara. Gaya Indo -Islam & Moor terutama disukai sang Kesultanan Aceh & Kesultanan Deli , seperti yg ditampilkan dalam Masjid Baiturrahman Banda Aceh dibangun pada 1881, dan Masjid Medan Ulasan Grand dibangun dalam tahun 1906. Khususnya selama dasa warsa sejak Indonesia merdeka, masjid cenderung dibangun pada gaya lebih konsisten dengan gaya Islam global, yang mencerminkan tren pada Indonesia terhadap praktek yg lebih ortodoks Islam .

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Arsitektur Istana

Arsitektur istana dari berbagai kerajaan dan alam Indonesia, lebih sering didasarkan pada gaya domestik vernakular adat daerah. Arsitektur istana mampu mengembangkan versi yang lebih megah dan rumit dari segi detail arsitektur dibandingkan dengan arsitektur tradisional. Di Kraton Jawa, misalnya, pendopos besar dari bentuk atap joglo dengan gaya atap tumpang sari lebih rumit tapi berdasarkan bentuk pada Jawa umumnya, sementara omo sebua (“Rumah kepala suku”) di Bawomataluo, Nias adalah versi yang besar dari rumah di desa, istana orang Bali seperti Puri Agung Gianyar gunakan  bale tradisional, dan Istana Pagaruyung adalah versi tiga lantai dari Minangkabau Rumah Gadang.

Istana Basa Pagaruyung (Sumatera Barat)

Istana Yogyakarta

Mirip menggunakan tren dalam arsitektur domestik, 2 abad terakhir sudah melihat penggunaan elemen Eropa dalam kombinasi dengan unsur tradisional, meskipun dalam tingkat yang jauh lebih sophisticated dan glamor dibandingkan menggunakan tempat tinggal -rumah domestik.

Di istana Jawa pendopo adalah aula tertinggi dan terbesar dalam kompleks. Sebagai tempat di mana raja duduk di singgasananya, dan di tempat itu biasanya diadakan acara-acara seremonial, sementara masyarakat biasa tidak memiliki  akses ke ruang ini.

Istana Maimun, Sumatera Utara, dipengaruhi kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia

Arsitektur Kolonial

Pada abad ke-16 dan 17 melihat kedatangan kekuatan Eropa pada Indonesia yang memakai batu buat banyak konstruksi mereka. Sebelumnya kayu & produk sampingannya sudah hampir secara eksklusif dipakai pada Indonesia, dengan pengecualian beberapa arsitektur kepercayaan & istana utama. Salah satu yg pertama adalah pemukiman Belanda pada Batavia (lalu bernama Jakarta ) yang dalam abad-17 & 18 adalah batu bata benteng & kota batu.

Selama hampir 2 abad, para penjajah sudah menyesuaikan arsitektur Eropa mereka terhadap iklim tropis. Di Batavia, misalnya, mereka membentuk kanal melalui daerah dataran rendah, yang yang diberi jendela kecil & berventilasi buruk dalam tempat tinggal , terutama dalam gaya hibrida Cina -Belanda. Kanal-kanal menjadi tempat pembuangan limbah berbahaya & limbah dan tempat berkembang biak yang ideal bagi nyamuk anopheles, malaria dan disentri sebagai beredar pada semua ibukota kolonial Hindia Belanda.

Ceremonial Hall, Institut Teknologi Bandung, Bandung, arsitek Henri Maclaine Pont

Meskipun rumah-rumah petak , kanal dan dinding padat tertutup pertama kali dianggap sebagai perlindungan terhadap penyakit tropis yang berasal dari udara tropis, tahun kemudian dipelajari Belanda untuk menyesuaikan gaya arsitektur mereka dengan fitur bangunan lokal (atap panjang , beranda , serambi tiang, jendela besar dan ventilasi). vila Indo – Eropa abad ke-19 berada di antara bangunan kolonial pertama yang memasukkan unsur-unsur arsitektur Indonesia dan berusaha beradaptasi dengan iklim. Bentuk dasar, seperti tata ruang dan penggunaan joglo dan struktur atap limas pada bangunan rumah Jawa, tetapi dimasukkan unsur-unsur dekoratif Eropa seperti kolom neo-klasik di beranda dalam. Bahwa rumah Indo – Eropa pada dasarnya rumah Indonesia dengan garis Eropa, pada awal abad ke-20, tren itu untuk modernis pengaruh-seperti seni  deco yang dinyatakan dalam bangunan dasarnya Eropa dengan lis Indonesia ( seperti atap bernada tinggi yang digambarkan rumah dengan Javan ridge detail ). Langkah-langkah praktis dibawa dari hibrida sebelumnya Indo – Eropa, yang menanggapi iklim Indonesia, termasuk atap yang menjorok keluar, jendela besar dan penggunaan ventilasi di dinding.

Villa Isola, tampak depan (ca.1933-40)

Pada akhir abad ke-19, perubahan besar yang terjadi pada sebagian akbar kolonial Indonesia, khususnya Jawa. Perbaikan yang signifikan buat teknologi, komunikasi dan transportasi sudah membawa kekayaan baru ke kota-kota Jawa dan perusahaan swasta sudah mencapai pedesaan. Bangunan Campuran yg diharapkan buat pembangunan tadi timbul dalam jumlah besar , dan sangat ditentukan sang gaya internasional. Bangunan-bangunan baru termasuk stasiun kereta api, hotel usaha, pabrik-pabrik dan tempat kerja, tempat tinggal sakit & forum pendidikan. Saham terbesar bangunan era kolonial pada kota-kota akbar pada pulau Jawa, seperti Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Bandung adalah catatan khusus menggunakan keliru satu koleksi terbesar yg tersisa dari tahun 1920-an bangunan Art Deco di global, menggunakan karya terkenal berdasarkan beberapa arsitek Belanda & perencana, termasuk Albert Aalbers, Thomas Karsten, Henri Maclaine Pont, J Gerber & CPW Schoemaker.

salah satu rumah gaya kolonial di bandung yang beradaptasi dengan gaya lokal

Arsitektur Post Independence

Modernisme awal abad kedua puluh masih sangat kentara pada Indonesia, sekali lagi sebagian besar pada Jawa. Tahun 1930-an depresi dunia yang menyengsarakan Jawa, dan diikuti oleh satu dasa warsa perang, revolusi & perjuangan, yg membatasi perkembangan lingkungan dibangun. Selanjutnya, orang Jawa membentuk rumah menggunakan gaya art-deco dimulai tahun 1920 sebagai akar buat pertama kalinya gaya nasional Indonesia dalam tahun 1950. Kontinuitas dari 1920-an & 30-an hingga 1950-an selanjutnya didukung sang perencana Indonesia & rekan-rekan dari Karsten Belanda.

Masjid Istiqlal, masjid nasional Indonesia (Arsitektur Post Independence)

Arsitektur Kontemporer

Tahun 1970-an, 1980-an dan 1990-an melihat investasi asing dan pertumbuhan ekonomi; booming konstruksi besar membawa perubahan besar ke kota-kota Indonesia, termasuk penggantian gaya kedua puluh awal dengan akhir gaya terbaru dan postmodern booming pembangunan perkotaan terus di abad 21 & menciptakan bangunan pencakar langit pada kota-kota Indonesia. Banyak bangunan baru yang dilapisi menggunakan bagian atas kaca mengkilap buat mencerminkan mentari tropis. Gaya Arsitektur yg dipengaruhi sang perkembangan arsitektur internasional, termasuk pengenalan arsitektur DEKONSTRUKSIVISME.

Arsitektur terkini nir mengalami perkembangannya pada Indonesia, karena sebagaimana gaya arsitektur lain yg diimpor berdasarkan negara-negara barat, gaya ini masuk ke Indonesia menjadi efek globalisasi. Gaya arsitektur terbaru ada menjadi gaya internasional yang relatif memiliki kemiripan pada semua tempat, semua negara. Setidaknya, gaya terbaru permanen mengusung fungsi ruang menjadi titik awal desain. Di Indonesia, gaya modern dicermati menjadi gaya dimana fungsi ruang jua merupakan titik awal desain.

Sekian dan terimakasih atas kunjungannya.

Referensi : Wikipedia bhs. Indonesia, http://en.Wikipedia.Org & sumber lainnya

Image      : Google Image, Wikipedia

Anda sedang membaca artikel tentang Mengenal Gaya Arsitektur (4) : Arsitektur Indonesia dan anda bisa menemukan artikel Mengenal Gaya Arsitektur (4) : Arsitektur Indonesia ini dengan url http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/09/arsitektur-indonesia.html, dipersilahkan menyebarluaskan artikel ini, asal dengan gaya bahasa anda sendiri, jika artikel Mengenal Gaya Arsitektur (4) : Arsitektur Indonesia ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, dengan link Mengenal Gaya Arsitektur (4) : Arsitektur Indonesia sebagai sumbernya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.