Menu
Desain Rumah – Desain Interior – Bangun Rumah – Renovasi Rumah

Artikel: Pemerintah Godok Pungutan Pajak Progresif Tanah Menganggur | HBS Blog

  • Share

Rencana pemerintah memberlakuan pajak progresif bagi tanah menganggur rupanya bukan hanya sekedar perihal saja. Melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pemerintah terus melakukan aneka macam persiapan terkait planning tersebut.

Menteri ATR Sofyan Djalil mengatakan, kajian pajak progresif bagi tanah menganggur sebenarnya sudah ?Dibahas kementerian teknis. Namun, pemerintah masih merumuskan terkait mekanisme pungutan serta perhitungan pajak progresif, kecuali bagi bank tanah tempat industri ataupun perumahan.

"Kita masih work out, masih dirumuskan semuanya, jangan sampai membentuk distorsi. Kita baru bicara pada taraf teknis. Kalau telah formal baru ke presiden," kata Sofian.

Wacana Lama Yang Dimunculkan Kembali

Sebenarnya planning pemberlakuan pajak progresif bagi tanah menganggur sudah relatif usang menjadi tentang. Hal ini kembai dibahas karena dipercaya cukup potensial guna mendongkrak ekonomi.

Tanah menganggur yg bakal kena pajak adalah sebidang lahan yang dibiarkan dalam waktu usang & nir dimanfaatkan secara produktif, baik dibangun tempat tinggal , dipakai menjadi huma perkebunan, pertanian atau hal lainnya.

Mengenai besaran pajak yg bakal dikenakan Sofyan Djalil menjelaskan opjak progresif dipungut terhadap laba berdasarkan hasil penjualan tanah yang tinggi.

"Sebagai model, kita memahami harga tanah kini berapa misal Rp 10 ribu per meter. Nanti jikalau dijual seharga Rp 100 ribu per meter, maka yg Rp 90 ribu itu kena pajak progresif. ?Atau beli tanah sebelumnya Rp 1 miliar, tapi dijual Rp dua miliar. Keuntungan 100 % ini yang dipajaki," kata Sofyan.

Upaya Membatasi Spekulan

Sofyan Djalil berkata rencana pemerintah memungut pajak progresif bagi tanah-tanah menganggur sebenarnya buat menghilangkan atau membatasi spekulasi orang terhadap tanah yg tidak produktif. Lantaran, apabila harga tanah kosong seakin naik tak terkontrol, mereka yang hidup pas-pasan bakal main sulit membeli sebidang tanah. Tidak memiliki poly uang akan semakin nir sanggup membelinya. Kesenjangan antara si kaya & si miskin pun akan semakin tampak terlihat.

"Orang jangan punya uang investasinya pada tanah, tidak memberi manfaat apa-apa, beli tanah hanya mengharapkan harga naik. Harga tanah jadi nir terkontrol lantaran orang berspekulasi, pada akhirnya mendistorsi investasi," kata Sofyan.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.