Menu
Desain Rumah – Desain Interior – Bangun Rumah – Renovasi Rumah

Artikel: Perumahan yang Fleksibel dan Mudah Beradaptasi | HBS Blog

  • Share

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin sebagian orang mendengar kata fleksibel, bahkan mungkin ada jua yang baru mendengar. Fleksibel sanggup dikatakan kelenturan atau mudah diatur, jadi sanggup diklaim fleksibel itu orang yang gampang mengikuti keadaan terhadap lingkungan. Jadi berdasarkan macam kata tadi dapat disimpulkan fleksibel adalah sikap yang mampu mengikuti keadaan dan tanggap menggunakan cepat sekalipun pada keadaan yang sangat darurat/mendesak.

Fleksibilitas Ruang

Fleksibilitas penggunaan ruang adalah suatu sifat kemungkinan dapat digunakannya sebuah ruang buat beragam sifat & aktivitas, dan bisa dilakukannya pengubahan susunan ruang sesuai menggunakan kebutuhan tanpa membarui tatanan bangunan.

Kriteria pertimbangan fleksibilitas adalah:

1) Segi Teknik

Yaitu kecepatan perubahan, kepraktisan, resiko rusak kecil, tidak poly aturan, memenuhi persyaratan ruang.

2) Segi Ekonomis

Yaitu murah berdasarkan segi biaya pembuatan & pemeliharaan.

Ada tiga konsep fleksibilitas, yaitu ekspansibilitas, konvertibilitas, dan versabilitas.

Berikut penjelasannya:

1) Ekspansibilitas

Adalah konsep fleksibilitas yang penerapannya dalam ruang atau bangunan yaitu bahwa ruang & bangunan yang dimaksud dapat menampung pertumbuhan melalui perluasan.

2) Konvertibilitas

Ruang atau bangunan dapat memungkinkan adanya perubahan tata atur pada satu ruang.

3) Versatibilitas

Ruang atau bangunan dapat bersifat multi fungsi.

Fleksbilitas arsitektur dengan menggunakan aneka macam macam solusi dalam mengatasi perubahan-perubahan aspek terbangun pada sekitar tapak membuatnya bisa dianalisa pada kajian temporer yaitu dimana fleksibilitas arsitektur ini dapat berubah sesuai dengan yang pengguna butuhkan.

Sifat temporer ini bisa dianalisa dalam tiga aspek temporal dimension yg diungkapkan sang Carmona, et al (2003):

1) Time Cycle And Time Management

Aktivitas selalu berubah sesuai menggunakan ruang maupun sesuai dengan ketika misalnya sebuah zat cair yg nantinya akan memerlukan sebuah wadah buat menaruh kekuatan kegiatan tadi. Disinilah arsitek sebagai pencipta ruang wajib selalu kritis melihat celah-celah terbentuknya ruang yang berubah sesuai menggunakan perubahan saat yang juga menaruh reaksi pada penggunaan lingkungan sekitarnya.

2) Continuity And Stability

Walaupun lingkungan selalu berubah berdasarkan ketika ke waktu sebuah eksistensi desain seharusnya sanggup menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan tadi, sebagai akibatnya keberlanjutan desain yang diperlukan dari sebuah karya arsitektur mempunyai fungsi optimal yg stabil pada bereaksi dengan lingkungan terbangun.

3) Implemented Over Time

Sebagai seorang Arsitek, perencana ruang, hal ini adalah hal krusial yg wajib diperhatikan. Bagaimana desain nantinya bukan bekerja pada jamannya saja namun jua justru sanggup melampaui jamnnya. Sehingga pemikiran-pemikiran yg inovatif harus terus dihadirkan buat menghadirkan strategi yang dapat mengatasi segala perubahan akan lingkungan.

Sifat Fleksibilitas Ruang

Setiap bangunan berpotensi buat mengakomodasi beberapa perubahan. Namun, tidak semua bangunan memiliki unsur fleksibel & nir seluruh bangunan dapat pula memungkinkan terjadinya perubahan guna. Menurut Kronenburg, bangunan yg fleksibel merupakan bangunan yang dapat mengakomodir aktivitas-kegiatan penghuni & sangat memungkinkan terjadi perubahan dalam bangunan. Berkembangnya kreativitas insan pada rangka memenuhi kebutuhannya supaya lebih baik merupakan keliru satu faktor yg lalu mempopulerkan arsitektur fleksibel.

Salah satu kriteria bangunan fleksibel merupakan memiliki kapasitas buat berubah, baik struktur ruang ataupun kegunaan yang general dibandingkan denganruang-ruang menggunakan kegunaan yang khusus.

Fleksibilitas dalam arsitektur telah sebagai perdebatan sejak munculnya revolusi industri. Perdebatan tadi berakhir dalam dua definisi mengenai fleksibilitas.

Fleksibilitas merupakan syarat ketika arsitek mendesain bangunan menggunakan komplit, sehingga unsur fleksibilitas telah termasuk di dalamnya.

Fleksibilitas adalah kondisi saat membiarkan bangunan sebagai karya yang belum selesai (incomplete) buat lalu berkembang dimasa depan sesuai kebutuhan penghuni.

Mengenai perdebatan fleksibilitas dalam arsitektur ini, Hertzberger menanggapi bahwa bangunan yang bisa merespon kemungkinan yang terjadi di masa depan merupakan bangunan yg tanpa dirubah pun permanen dapat dipakai buat setiap aktivitas.

Dari pendapat – pendapat tadi yg perlu ditekankan adalah bahwa arsitektur fleksibel merupakan suatu bisnis yg dilakukan buat merespon pertarungan -pertarungan desain yg dengan tujuan utamanya adalah dapat mengakomodir kebutuhan penghuni/pengguna bangunan.

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan bermacam-macam cara, Kroenburg (2007). Merumuskan 4 karakter utama arsitektur fleksibel, yaitu adaptation, transformation, movability dan interaction. Empat karakter ini adalah kriteria generik yg wajib dimiliki sang arsitektur fleksibel.

Baca: Pasar Dan Program Perumahan Yang Terkait

1) Adaptation

Yang berarti bangunan yang dapat merespon perubahan-perubahan yang terjadi, sebagai akibatnya perubahan yg terjadi di masa depan bisa diakomodir sang bangunan tersebut.

Desain yg adaptable merupakan suatu strategi buat merespon kondisi dimana suatu bangunan nir selalu sebagai bangunan yang akan dihuni seorang atau sebuah grup (keluarga) saja, melainkan buat sekumpulan orang lain yang akan menghuni bangunan itu dimasa depan. Dengan pendekatan adaptable architecture, bangunan berpotensi buat berubah secara berkelanjutan. Adaptable architecture jua memungkinkan terjadinya perubahan sistem buat teknologi modern dalam sistem yg telah terpasang sebelumnya. Seiring perkembangan teknologi, sistem servis, komunikasi & sekuriti niscaya akan mengalami perubahan. Dalam adaptable architecture, fleksibilitas buat membarui dan mengupgrade sistem-sistem tadi bisa dimungkinkan.

2) Transformation

Berhubungan menggunakan perubahan bentuk, volume dan tampak bangunan, Sebuah bangunan yang transformable adalah arsitektur yang erat hubungnanya dengan kinetic atau gerakan-gerakan ?Membuka?, ?Menutup?, ?Meluas?, dan ?Menyempit?.

3) Movability

Dalam hal ini terkait menggunakan tingkat fleksibilitas peletakan bangunan. Unsur-unsur bangunannya bisa dipindahkan menurut satu loka ke tempat lainnya. Metode yg diterapkan merupakan dengan menciptakan bangunan sebagai ?Portable?, yaitu, bisa dibongkar bagian per bagian namun dapat dirakit kembali sampai sebagai utuh misalnya semula. Strategi yang dipakai buat memindahkan bangunan moveable architecture adalah dengan memakai donasi alat transportasi.

4) Interaction

Berkaitan dengan aksi dan reaksi manusia pada upayanya mewujudkan bangunan pintar (intelligent building). Interactive architecture adalah arsitektur yang mengandalkan teknologi pada penerapannya. Tujuannya adalah membuat bangunan yg pintar sehingga bangunan tersebut secara otomatis dapat mengakomodir kebutuhan penghuni. Teknologi yang memungkinkan hal itu terjadi merupakan sebuah alat sensor yang mendapat frekuwensi dari penghuni dengan mediator telepon genggam, PDA, komputer atau alat lainnya.

Secara umum yg dibutuhkan bangunan menggunakan guna yang berkelanjutan merupakan tingkat fleksibilitas yg memungkinkan bangunan tadi digunakan dalam kurun ketika yang panjang menggunakan kemampuan mengakomodir terjadinya perubahan-perubahan dalam bangunan & fleksibilitas tersebut mempunyai tiga acuan yg antara lain merupakan ekspansibilitas (perluasan), konvertibilitas (perubahan) dan versatibilitas (multifungsi)

5) External Shading

Merupakan sebuah tritisan bangunan pada bagian luar bangunan, atau dapat dikatakan sebagai penghalang matahari langsung buat masuk kedalam bangunan.

6) Thermal Mass

Merupakan pendekatan dengan material bangunan dimana material bangunan tadi dapat menyerap & menyimpan hawa panas menurut surya, namun buat pertarungan khususnya pada daerah yg bersifat tropis usahakan tidak menggunakan material yg menyimpan panas melainkan material yang memiliki nilai thermal mass yg rendah bahkan tidak terdapat bila bias.

7) Low Window to Wall Area Ratio (S/W)

Merupakan rasio besaran jendela atau bukaan yg dipakai dalam rancangan bangunan khususnya pada bagian dinding, hal ini sangatlah berpengaruh terhadap pencahayaan, penghawaan, & pemandangan.

Rumus perhitungan Window to Wall Area Ratio, berdasarkan Standar National Indonesia, bagian Illuminating Engineering Society (IES):

WWR = Luas Dinding Pada Fasad/Luas Bukaan Pada Fasad

8) Passive Ventilation

Atau bisa dikenal menjadi natural ventilation yang dimana memanfaatkan tekanan angin sebagai sistem buat menukar udara pada bangunan, misalnya halnya perputaran udara.

9) Nocturnal Cooling

Atau dapat dikenal menggunakan night flush cooling yang berfungsi menjadi ventilasi buat mendingkan bangunan pada malam hari supaya siang harinya bangunan siap menerima panas dari luar bangunan dengan syarat temperatur yg rendah.

10) Cross Ventilation

adalah sistem penghawaan bangunan yang menaruh bukaan pada ke 2 sisi yang bersebrangan. Hal ini agar dapat menerima udara yang tiba kemudian mendorong udara pada bangunan menuju keluar bangunan.

11) Stacked Window

Merupakan sistem penerapan bukaan dalam dinding yang sama (atas & bawah) hal ini bisa membantu buat memasukan udara dingin melalui jendela bawah kemudian membuang udara panas dari jendela atas.

12) Passive Evaporative Cooling

Merupakan sistem divestasi panas yg memanfaatkan penguapan menjadi media pendinginan, seperti halnya menggunakan kolam dalam bangunan.

13) Orientation

Atau dapat dikenal dengan arah hadap bangunan, dimana dengan arah hadap bangunan tadi dapat meminimalisir atau memaksimalkan pemanfaatan berdasarkan masuknya surya & angin.

14) Double Facades and Buffer Space

Berfungsi menjadi secondary skin atau lapisan kedua dalam bangunan. Dengan menggunakan sistem ini maka bisa memanfaatkan ruang antara ke 2 kulit bangunan menjadi penyaring suhu panas yang masuk pada bangunan.

15) Central Atria And Lobbies

Menggunakan atrium atau lobby yg akbar dalam rancangnya agar dapat memusatkan penghawaan pada titik tersebut misalnya mengarahkan udara dingin yang masuk kemudian membuangnya yang keluar melalui atrium, lobby atau void tersebut.

16) Opening To Corridors And Between Seperated Room

Memberikan bukaan pada bagian koridor atau memberikan space antar ruangan supaya nir mengunci hawa panas dalam bangunan dan lebih mudah mengatur sirkulasi bangunan.

Konsep Gagasan Yang Diusulkan

"Apakah perumahan sudah ditentukan sebelumnya atau dapatkah itu merespons perubahan gaya hidup & siklus hidup penghuninya?"

Perumahan yang Fleksibel dan Mudah Beradaptasi

Ada ketidakcocokan antara pilihan perumahan yg terdapat dan preferensi warga . Kami tidak menciptakan apa yang kita inginkan; peraturan dewan, pengaturan perencanaan & pengaturan zonasi menambah kasus ini. Dengan meningkatnya harga properti pada pusat kota, semakin poly orang dipaksa keluar berdasarkan pinggiran kota dan kepemilikan rumah semakin usang semakin terjangkau.

Proyek perumahan yg diusulkan bertujuan buat menanggapi fluktuasi warga dan gagasan kepemilikan dan warga melalui taktik perumahan yang fleksibel & mudah diubahsuaikan. Masterplan terdiri menurut ruang komunitas di seluruh lokasi menggunakan penekanan mengembalikan wilayah pesisir ke penghuni.

Kelompok hunian yg ditinggikan menaruh privasi bagi penduduk sembari membiarkan rakyat menyaring melewati jalan primer & ruang komersial menuju tepi laut. Desain modular memungkinkan variasi tipologi buat memenuhi keragaman di wilayah ini.

"Kesempatan bagi orang buat membuat pertanda dan identifikasi eksklusif mereka, sedemikian rupa sebagai akibatnya bisa diubahsuaikan & dianeksasi oleh semua orang menjadi loka yang benar-benar ‘milik’ mereka."

Untuk mengoptimalkan ruang pada pada tempat tinggal, sistem grid diimplementasikan menggunakan komponen tetap & fleksibel yang diidentifikasi. Komponen fleksibel memungkinkan loka tinggal berubah karena ruang yang diharapkan oleh penghuninya berubah. Strategi perumahan yang diusulkan ini membahas perumahan "Hilang Tengahdanquot; melalui reinterpretasi bagaimana tempat tinggal dapat merespons fluktuasi masyarakat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.