Menu
Desain Rumah – Desain Interior – Bangun Rumah – Renovasi Rumah

Artikel: Unsur-unsur Tampilan Arsitektur Bali | HBS Blog

  • Share

Dirangkum berdasarkan banyak sekali sumber dijelaskan bahwa tampilan arsitektur Bali banyak ditentukan agama & agama rakyat Bali itu senndiri. Beberapa elemen ragam hias sarat akan cerita keagamaan maupun adat norma yang berkembang di Bali.

Unsur-unsur Tampilan Arsitektur Bali

Unsur-unsur Tampilan Arsitektur Bali

Dalam tipologi bangunan eksklusif suatu ornamen nir boleh ditempatkan asal-asalan. Lahirnya ragam hias style Bali jua dipengaruhi sang tradisi yang berkembang pada Bali dan herbi sejarah rakyat Bali sendiri.

Keanekaragaman bentuk ragam hias Bali menyiratkan makna yg mendalam baik secara eksplisif maupun implisif. Ragam hias arsitektur Bali tak hanya menampilkan estetika & cita rasa seni semata, namun jua memiliki fungsi-fungsi lainnya, antara lain yaitu:

  1. Elemen dekoratif bangunan
  2. Penunjang struktur dan konstruksi bangunan
  3. Simbol status sosial masyarakat
  4. Menunjukkan fungsi bangunan

Berikut adalah beberapa hal tentang tampilan arsitektur Bali yang dikutip dari berbagai sumber :

A. Bentuk Geometri

Bentuk geometri yang menjadi ciri khas di Bali adalah penggunaan atap limasan yang merupakan bentuk atap yang sudah digunakan sejak lama di Bali. Sesuai Perwali Kota Denpasar No 25 Tahun 2010 mewajibkan setiap bangunan memakai atap limasan lengkap dengan murda dan ikut celedunya.

Bentuk atap limasan

Bentuk atap limasan

Hal inilah yg berimbas pada bentuk geometri bangunan-bangunan di Bali khususnya di Denpasar. Bentuk atap limasan juga dikenal baik mengikuti keadaan menggunakan lingkungan Bali yg tropis, sementara dari segi filosofi memiliki makna gunung.

Baca juga : Mengenal Arsitektur Bali dan Keunikannya Secara Lengkap

B. Ragam Hias

Ragam hias yang berkembang di Bali banyak dipengaruhi oleh cerita agama dan kepercayaan masyarakat Bali. Dwijendra, N. K. Acwin. 2010.  mengklasifikasikan ragam hias Bali Sebagai Berikut :

1) Pepatran (Flora)

Berbagai bentuk motif pepatran Bali

Berbagai bentuk motif pepatran Bali

Ragam hias yang merogoh sebagian atau seluruh bentuk flora yang diekspresikan & dirangkai sedemikian rupa dalam bentuk relief atau pahatan kayu. Contohnya : Patra Wangga, Patra Sari, Patra Bun-bunan, Patra Pipid

2) Kekarangan (Fauna)

Berbagai bentuk motif kekarangan Bali

Berbagai bentuk motif kekarangan Bali

Ragam hias yang mengambil sebagian atau seluruh bentuk binatang yg dijadikan ukiran, tatahan atau pepulasan. Penerapannya merupakan pendekatan menurut keadaan sebenarnya. Hewan-hewan yg dipakai umumnya hewan yg terdapat hubungannya menggunakan cerita kepercayaan dan agama masyarakat Bali. Contohnya : Karang Gajah, Karang Guak, Karang Sae

3) Alam

Ragam hias yang menampilkan komponen alam selain flora dan fauna (komponen tak hidup). Umumnya merupakan pelengkap yang menggambarkan kondisi alam sebagai latar belakang/setting relief. Contohnya : Air, Api-apian, Awan, Kekayonan, Bebaturan, Geginan

4) Agama & Kepercayaan

Merupakan ragam hias yang memasukan unsur-unsur keagamaan, seperti terdapatnya sosok dewa maupun bhuta kala. Ragam hias ini erat kaitannya dengan agama maupun kepercayaan masyarakat Bali. Contoh : Patung dewa/dewi, Patung bhuta kala, Relief cerita pawayangan

5) Ragam Hias Lainnya

Ragam hias selain yang tersebutkan di atas. Umumnya ragam hias ini tidak mewakili bentuk apapun, melainkan hanya permainan geometri murni sebagai ragam hias. Contohnya : Kekupakan, Kencut, Tampu Manggis, Lelengisan, Papalihan, Reruitan

Baca pula : Langgam Arsitektur Tradisional Bali

C. Material

Material pada arsitektur Bali lebih banyak menggunakan material alami. Material alami tersebut seperti alang-alang, kayu dan bambu. Bahan lain yang diambil dari bebatuan adalah paras. Sedangkan material olahan yang cukup banyak digunakan adalah batu bata merah.

Di Bali, penggunaan material bata merah sudah dilakukan semenjak usang, bata dibuat secara tradisional menggunakan tanah yang dibakar. Bata banyak digunakan buat menciptakan tempat suci & rumah tradisional. Sesuai Perwali Kota Denpasar No 25 Tahun 2010 pula diatur supaya setiap bangunan menampilkan finishing bahan spesial bali yang galat satunya merupakan bata merah.

D. Furniture

Furniture khas Bali yang banyak dijumpai pada rumah-rumah tradisonal merupakan furniture vernakular, yang dibuat sesuai kebutuhan terutama kebutuhan upacara. Namun, pada perkembangannya, ukiran-ukiran mulai masuk dalam pembuatan furniture seperti pembuatan dulang yang diukir, peti, dan pelangkiran. Di masa sekarang juga telah berkembang furniture seperti meja dan kursi yang diukir.

Demikianlah tentang Unsur-unsur Tampilan Arsitektur Bali, semoga berguna dan terima kasih.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.